BEC Dulu dan Sekarang “Sebuah Ungkapan Hati”

Penulis: Nur Hanifah S. Pd

Berbicara tentang BEC dulu dan sekarang, berarti membuka lembaran sejarah dari nol sampai saat ini. Sejarah masa lalu itulah yang membuat adanya cerita saat ini. Buat saya pribadi, BEC merupakan satu institusi yang luar biasa karena saya ikut merasakan waktu ngidam, konstraksi , lahir dan tumbuhnya BEC selama 9 tahun ini.

Perjalanan yang cukup panjang ini telah memberikan banyak pengalaman menarik untuk diambil hikmahnya. Tidak perlu saya uraikan panjang masa lalu BEC yang menempati rumah kontrakan dengan fasilitas yang sangat sederhana sampai saat ini memiliki gedung yang megah dan sarana yang sangat memadai. Yang pasti dari untaian waktu 9 tahun itu, BEC selalu melakukan perbaikan dari semua sisi walaupun pasti masih ada kekurangannya. Satu hal yang harus diingat adalah bahwa BEC merupakan tempat yang berbeda dari institusi yang lain, jadi jangan kaget kalau anda menemukan hal-hal yang berbeda dari institusi pendidikan yang lain, baik itu peraturan, sistem belajar ,mengajar, pembinaan ahlak, dan juga peran pendidik di BEC , pasti ada yang berbeda.

Sistem yang ada saat ini ditetapkan oleh yayasan untuk dilaksanakan berdasarkan pertimbangan yang matang. Memang, saya sadari bahwa PBM dan peraturan yang sangat ketat di BEC ini kadang kurang nyaman buat orang-orang yang biasa, yang belum bisa merasakan “RUH” BEC sesungguhnya (walaupun sudah lama berada di BEC), dan BEC memang untuk orang –orang yang luar biasa, jadi bagi orang-orang yang biasa harus bisa menyesuaikan diri agar nyaman berada di BEC. Namun Insyaallah, apa yang ada di BEC itu yang akan memberikan jati diri dan bekal buat mahasiswa  agar nantinya mereka bisa menjadi insan-insan yang berahlak baik, profesional, dan mandiri (bukan untuk membebani anak dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya dan bukan untuk memasung kreativitas). BEC ingin mencetak lulusan yang cantik luar dalam,  sehat lahir batin, siap mental, emosional dan spiritual (berahlakul karimah) di masa depan.

Memang tidak gampang untuk mencapai tujuan itu, perlu kerja sama yang cantik dan solid antar semua Civitas Akademika,- dosen, mahasiswa – . semua elemen yang ada di sekolah. Saya lebih suka menyebut teman-teman dosen sebagai pendidik karena kalau hanya mengajar untuk mentransfer ilmu, mudah untuk dilaksanakan. Tapi menjadi seorang pendidik, berarti  bisa menjadi sosok yang bisa diteladani oleh anak didik. Bukan berarti  harus bermuka dua sebagai pendidik, tapi ada tanggung jawab untuk  bisa mengevaluasi dan manjaga perilaku diri sendiri dan sebagai pendorong agar bisa menjadi orang yang baik. Bukankah setiap hari kita berdoa agar semoga  hari ini lebih baik dari hari kemarin? Apa salahnya jika kita mengajarkan kerja keras, disiplin, kebersihan, kerapihan (agar indah dipandang), sopan santun , ahlak yang benar dan baik, yang notabene semuanya itu juga ajaran yang ada dalam agama Islam (sebagai acuan hidup kita)? Tapi begitulah, peraturan selalu memiliki dua efek, nyaman dan tidak nyaman, setuju dan tidak setuju,  but the show must go on…..

Memang apa yang ada di BEC selama ini kurang populer untuk anak-anak muda saat ini. Disiplin, kerja keras, rapih, santun dalam bersikap, bergaul yang benar merupakan hal yang tidak asyik untuk dijadikan gaya hidup. Namun, insyaAllah, apa yang tidak “asyik” itulah yang membuat BEC bertahan sampai saat ini dan lulusannya laris di dunia kerja. Dan benar kiranya bahwa hidup itu adalah pilihan, begitu juga BEC itu juga merupakan pilihan. Bergabung disini, berarti  menyesuaikan dengan BEC, atau jangan berada di BEC kalau memang tidak bisa menyesuaikan dengan BEC.

InsyaAllah, menjelang 10 tahun perjalanan BEC, tidak akan ada yang luntur dari tujuan awal meskipun sudah banyak wajah BEC yang berubah, namun “RUH” yang dibangun tujuannya tetap sama. Sudah banyak nilai-nilai, norma-norma yang “haq” bergeser karena pengaruh modernisme,“GAUL” yang salah arti dan liberalisme yang terselubung. Begitu pula sudah banyak norma atau moral yang “Bathil” dalam masyarakat yang bergeser menjadi hal yang “LUMRAH” (walau hati nurani bilang salah) karena pengaruh globalisasi yang mengatasnamakan, modernisme, toleransi, hak asasi , kreativitas dan lain-lain.  Memang tidak mudah untuk melaksanakan hal tersebut karena pasti ada goda dan cobaan yang menerpa,- baik itu yang bisik-bisisk, sepoi-sepoi  maupun yang cukup bergemuruh-, namun insyaAllah teman teman pendidik di BEC  kuat dalam menjaga amanah ini. Semoga Allah SWT selalu meridhoi langkah kami dalam usaha mendidik anak-anak menjadi orang-orang yang berhasil di masa depan dan tentu memiliki Ahlaqul Karimah, karena saat ini penyakit generasi muda Indonesia adalah rusaknya ahlak yang sudah menjalar dimana-mana dan harus disembuhkan atau diamputasi. Tak ada Gading Yang Tak Retak, namun kita akan selalu melakukan hal yang lebih baik sebagai salah satu wujud ibadah kita . Semoga bisa menjadi renungan. Amin

18 Comments

Add a Comment

Pendaftaran Angkatan Ke-20 Sudah DibukaCEK DISINI!