<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BogorEduCARE.org &#187; Dunia Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://bogoreducare.org/category/Dunia%20Pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bogoreducare.org</link>
	<description>100% Kuliah GRATIS</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 09:17:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>&#8221;Perlukah Pendidikan Berkarakter?&#8221;</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/07/lagi-kasus-video-mirip-ariel-luna-maya-dan-cut-tari-perlukah-pendidikan-berkarakter/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/07/lagi-kasus-video-mirip-ariel-luna-maya-dan-cut-tari-perlukah-pendidikan-berkarakter/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 06:37:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[budaya bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[budi pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/2010/07/lagi-kasus-video-mirip-ariel-luna-maya-dan-cut-tari-perlukah-pendidikan-berkarakter/</guid>
		<description><![CDATA[“Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p align="justify"><em><font size="3">“Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak terpuji.”</font></em></p>
</blockquote>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2035.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-top: 0px; margin-right: 0px; border-right: 0px" title="100_2035" border="0" alt="100_2035" align="left" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2035_thumb.jpg" width="158" height="209" /></a> Berita video yang mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari begitu heboh. Saking hebohnya bisa mengalahkan pemberitaan kasus-kasus hukum yang lain (Century, Susno Duadji). Beritanya cepat sekali menyebar, dan pasti ada dampaknya, misalnya <a href="http://megapolitan.kompas.com/read/2010/07/14/09133433/Pelaku.Video.Mesum.ABG.Rumpin.Dinikahkan" target="_blank">di Rumpin Bogor terjadi adegan video yang katanya meniru video mirip Ariel dkk tersebut</a>. Video itu berformat 3gp beredar di ponsel, pelakunya masih remaja (ABG). </p>
<p align="justify">Apakah yang terjadi dengan masyarakat bangsa ini, masyarakat yang katanya menjunjung tinggi budaya ketimuran, yang menghormati norma-norma kesopanan, kesusilaan. Apakah yang terjadi? Apakah sudah bergeser nilai-nilai kearifan lokal bangsa ini. Masyarakat sudah masa bodoh dengan lingkungan sekitar, hal-hal yang dulu dianggap tabu sudah menjadi sesuatu yang biasa dan dimaklumi. Dianggap sebagai urusan pribadi yang katanya hak asasi. Tidak malu jika melakukan sesuatu yang melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Apakah itu hanya wilayah pribadi yang orang lain tidak ada kepentingan dan bukan menjadi urusannya, <em>that not my business. hmm…</em></p>
<p> <span id="more-704"></span>
<p align="justify"><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2036.jpg"><img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; border-left-width: 0px; margin-right: 0px" title="100_2036" border="0" alt="100_2036" align="left" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2036_thumb.jpg" width="244" height="184" /></a> Informasi dari media tentang kasus-kasus asusila seperti video mesum seringnya terjadi pada remaja/anak muda. Berita itu hanya <a href="http://www.inilah.com/news/read/gaya-hidup/2009/06/30/121566/aborsi-di-indonesia-26-juta-pertahun/" target="_blank">sebagian kecil</a> yang terungkap, dari data yang diberitakan <a href="http://www.antaranews.com/view/?i=1234758374&amp;c=NAS&amp;s=" target="_blank">AntaraNews 30% Pelaku aborsi adalah remaja dari 2,3 juta tiap tahunnya.</a> Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja terjadi peningkatan berkisar 150.000 hingga 200.000 kasus setiap tahunnya. </p>
<p align="justify">Jika tidak ada perbaikan apakah yang akan terjadi pada bangsa ini, apakah keruskan moral ini akan terus berlanjut, apakah akan terjadi keruskan pada bangsa ini, karena pemuda sekarang adalah pemimpin di masa depan. Apakah memang ada yang sengaja merusak bangsa ini melalui pemudanya, supaya bangsa dengan potensi yang luar biasa ini menjadi lemah pemudanya, pemudanya menjadi layu sebelum berkembang.</p>
<p align="justify">Ketika mendampingi anak yatim dari <a href="http://yatim.tv" target="_blank">Pondok Yatim Menulis</a> ke Jakarta di Kementrian DIKNAS, saya tertarik dengan beberapa spanduk yang terpampang, saya pikir dari DIKNAS sendiri sudah menyadari memang pendidikan budi pekerti, karakter dan budaya bangsa ini harus ditingkatkan dan digalakkan lagi. Supaya bisa menjadi kebiasaan baik atau akhlak.</p>
<p align="justify"><em>“Bangkitlah bangsaku, harapan itu masih ada” </em></p>
<p align="justify"><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2034.jpg"><img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="100_2034" border="0" alt="100_2034" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2034_thumb.jpg" width="244" height="184" /></a> </p>
<p align="justify">Berikut ini tulisan menarik tentang pendidikan karakter yang ditulis oleh pakarnya, selamat menikmati :</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><strong><font size="4">”Perlukah Pendidikan Berkarakter?”</font></strong></p>
<p align="justify">Oleh: Dr. Adian Husaini*</p>
<p align="justify">PEMERINTAH, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD-Perguruan Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, kata Mendiknas, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat membangun kepribadian bangsa. Mendiknas mengungkapkan hal ini saat berbicara pada pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed), Sabtu (15/4/2010).     <br />Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak terpuji.     <br />Bahkan, bisa dikatakan, dunia Pendidikan di Indonesia kini sedang memasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak alumni pendidikan yang unggul, yang beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter.     <br />Dr. Ratna Megawangi, dalam bukunya, Semua Berakar Pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007), mencontohkan, bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurutnya, pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.     <br />Dalam bukunya, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (2010), Doni Koesoema Albertus menulis, bahwa pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berkeutamaan. Dalam pendidikan karakter, yang terutama dinilai adalah perilaku, bukan pemahamannya. Doni membedakan pendidikan karakter dengan pendidikan moral atau pendidikan agama. Pendidikan agama dan kesadaran akan nilai-nilai religius menjadi motivator utama keberhasilan pendidikan karakter.     <br />Tetapi, Doni yang meraih sarjana teologi di Universitas Gregoriana Roma Italia, agama tidak dapat dipakai sebagai pedoman pengatur dalam kehidupan bersama dalam sebuah masyarakat yang plural. &quot;Di zaman modern yang sangat multikultural ini, nilai-nilai agama tetap penting dipertahankan, namun tidak dapat dipakai sebagai dasar kokoh bagi kehidupan bersama dalam masyarakat. Jika nilai agama ini tetap dipaksakan dalam konteks masyarakat yang plural, yang terjadi adalah penindasan oleh kultur yang kuat pada mereka yang lemah,&quot; tulisnya.     <br />Oleh karena itu, simpul Doni K. Albertus, meskipun pendidikan agama penting dalam membantu mengembangkan karakter individu, ia bukanlah fondasi yang efektif bagi suatu tata sosial yang stabil dalam masyarakat majemuk. Dalam konteks ini, nilai-nilai moral akan bersifat lebih operasional dibandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun demikian, nilai-nilai moral, meskipun bisa menjadi dasar pembentuk perilaku, tidak lepas dari proses hermeneutis yang bersifat dinamis dan dialogis.     <br />Sebagai Muslim, kita tentu tidak sependapat dengan pandangan Doni K. Albertus semacam itu. Sebab, bagi Muslim, nilai-nilai Islam diyakini sebagai pembentuk karakter dan sekaligus bisa menjadi dasar nilai bagi masyarakat majemuk. Masyarakat Madinah yang dipimpin Nabi Muhamamd saw, berdasarkan kepada nilai-nilai Islam, baik bagi pribadi Muslim maupun bagi masyarakat plural. Tentu kita memahami pengalaman sejarah keagamaan yang berbeda antara Katolik dengan Islam.     <br />Namun, dalam soal pendidikan karakter bagi anak didik, berbagai agama bisa bertemu. Islam dan Kristen dan berbagai agama lain bisa bertemu dalam penghormatan terhadap nilai-nilai keutamaan. Nilai kejujuran, kerja keras, sikap ksatria, tanggung jawab, semangat pengorbanan, dan komitmen pembelaan terhadap kaum lemah dan tertindas, bisa diakui sebagai nilai-nilai universal yang mulia. Bisa jadi, masing-masing pemeluk agama mendasarkan pendidikan karakter pada nilai agamanya masing-masing.     <br />Terlepas dari perdebatan konsep-konsep pendidikan karakter, bangsa Indonesia memang memerlukan model pendidikan semacam ini. Sejumlah negara sudah mencobanya. Indonesia bukan tidak pernah mencoba menerapkan pendidikan semacam ini. Tetapi, pengalaman menunjukkan, berbagai program pendidikan dan pengajaran – seperti pelajaran Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewargaan Negara (PPKN), Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), – belum mencapai hasil optimal, karena pemaksaan konsep yang sekularistik dan kurang seriusnya aspek pengalaman. Dan lebih penting, tidak ada contoh dalam program itu! Padahal, program pendidikan karakter, sangat memerlukan contoh dan keteladanan. Kalau hanya slogan dan ’omongan’, orang Indonesia dikenal jagonya!     <br />Harap maklum, konon, orang Indonesia dikenal piawai dalam menyiasati kebijakan dan peraturan. Ide UAN, mungkin bagus! Tapi, di lapangan, banyak yang bisa menyiasati bagaimana siswanya lulus semua. Sebab, itu tuntutan pejabat dan orangtua. Guru tidak berdaya. Kebijakan sertifikasi guru, bagus! Tapi, karena mental materialis dan malas sudah bercokol, kebijakan itu memunculkan tradisi berburu sertifikat, bukan berburu ilmu! Bukan tidak mungkin, gagasan Pendidikan Karakter ini nantinya juga menyuburkan bangku-bangku seminar demi meraih sertifikat pendidikan karakter, untuk meraih posisi dan jabatan tertentu.     <br />*****     <br />Mohammad Natsir, salah satu Pahlawan Nasional, tampaknya percaya betul dengan ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”     <br />Menurut rumus ini, dua kata kunci kemajuan bangsa adalah “guru” dan “pengorbanan”. Maka, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak “guru-guru yang suka berkorban”. Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar “guru pengajar dalam kelas formal”. Guru adalah para pemimpin, orangtua, dan juga pendidik. Guru adalah teladan. “Guru” adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh). Guru bukan sekedar terampil mengajar bagaimana menjawab soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi murid-muridnya.     <br />Mohammad Natsir adalah contoh guru sejati, meski tidak pernah mengenyam pendidikan di fakultas keguruan dan pendidikan. Hidupnya dipenuhi dengan idealisme tinggi memajukan dunia pendidikan dan bangsanya. Setamat AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung, dia memilih terjun langsung ke dalam perjuangan dan pendidikan. Ia dirikan Pendis (Pendidikan Islam) di Bandung. Di sini, Natsir memimpin, mengajar, mencari guru dan dana. Terkadang, ia keliling ke sejumlah kota mencari dana untuk keberlangsungan pendidikannya. Kadangkala, perhiasan istrinya pun digadaikan untuk menutup uang kontrak tempat sekolahnya.     <br />Disamping itu, Natsir juga melakukan terobosan dengan memberikan pelajaran agama kepada murid-murid HIS, MULO, dan Kweekschool (Sekolah Guru). Ia mulai mengajar agama dalam bahasa Belanda. Kumpulan naskah pengajarannya kemudian dibukukan atas permintaan Sukarno saat dibuang ke Endeh, dan diberi judul Komt tot Gebeid (Marilah Shalat).     <br />Kisah Natsir dan sederet guru bangsa lain sangat penting untuk diajarkan di sekolah-sekolah dengan tepat dan benar. Natsir adalah contoh guru yang berkarakter dan bekerja keras untuk kemajuan bangsanya. Ia adalah orang yang sangat haus ilmu. Cita-citanya bukan untuk meraih ilmu kemudian untuk mengeruk keuntungan materi dengan ilmunya. Tapi, dia sangat haus ilmu, lalu mengamalkannya demi kemajuan masyarakatnya.     <br />*****     <br />Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M. Natsir melalui sebuah artikelnya yang berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut”, Natsir mengingatkan bahaya besar yang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu mulai memudarnya semangat pengorbanan. Melalui artikelnya ini, Natsir menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia pasca kemerdekaan dengan pra-kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, kata Natsir, bangsa Indonesia sangat mencintai pengorbanan. Hanya enam tahun sesudah kemerdekaan, segalanya mulai berubah. Natsir menulis:     <br />“Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau… Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai…Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah… Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya&#8230;”     <br />Peringatan Natsir hampir 60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite bangsa, khususnya para pejabat dan para pendidik. Jika ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang mencintai pengorbanan dan bisa menjadi teladan bagi bangsanya. Beberapa tahun menjelang wafatnya, Natsir juga menitipkan pesan kepada sejumlah cendekiawan yang mewawancarainya, ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.” Lebih jauh, kata Natsir:     <br />”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi, gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.”     <br />*****     <br />Seorang dosen fakultas kedokteran pernah menyampaikan keprihatinan kepada saya. Berdasarkan survei, separoh lebih mahasiswa kedokteran di kampusnya mengaku, masuk fakultas kedokteran untuk mengejar materi. Menjadi dokter adalah baik. Menjadi ekonom, ahli teknik, dan berbagai profesi lain, memang baik. Tetapi, jika tujuannya adalah untuk mengeruk kekayaan, maka dia akan melihat biaya kuliah yang dia keluarkan sebagai investasi yang harus kembali jika dia lulus kuliah. Ia kuliah bukan karena mencintai ilmu dan pekerjaannya, tetapi karena berburu uang!     <br />Kini, sebagaimana dikatakan Natsir, yang dibutuhkan bangsa ini adalah “guru-guru sejati” yang cinta berkorban untuk bangsanya. Bagaimana murid akan berkarakter; jika setiap hari dia melihat pejabat mengumbar kata-kata, tanpa amal nyata. Bagaimana anak didik akan mencintai gurunya, sedangkan mata kepala mereka menonton guru dan sekolahnya materialis, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui lembaga pendidikan.     <br />Pendidikan karakter adalah perkara besar. Ini masalah bangsa yang sangat serius. Bukan urusan Kementerian Pendidikan semata. Presiden, menteri, anggota DPR, dan para pejabat lainnya harus memberi teladan. Jangan minta rakyat hidup sederhana, hemat BBM, tapi rakyat dan anak didik dengan jelas melihat, para pejabat sama sekali tidak hidup sederhana dan mobil-mobil mereka – yang dibiayai oleh rakyat – adalah mobil impor dan sama sekali tidak hemat.     <br />Pada skala mikro, pendidikan karakter ini harus dimulai dari sekolah, pesantren, rumah tangga, juga Kantor Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Dari atas sampai ke bawah, dan sebaliknya. Sebab, guru, murid, dan juga rakyat sudah terlalu sering melihat berbagai paradoks. Banyak pejabat dan tokoh agama bicara tentang taqwa; berkhutbah bahwa yang paling mulia diantara kamu adalah yang taqwa. Tapi, faktanya, saat menikahkan anaknya, yang diberi hak istimewa dan dipandang mulia adalah pejabat dan yang berharta. Rakyat kecil dan orang biasa dibiarkan berdiri berjam-jam mengantri untuk bersalaman.     <br />Kalau para tokoh agama, dosen, guru, pejabat, lebih mencintai dunia dan jabatan, ketimbang ilmu, serta tidak sejalan antara kata dan perbuatan, maka percayalah, Pendidikan Karakter yang diprogramkan Kementerian Pendidikan hanya akan berujung slogan! </p>
<p align="justify">[Depok, Juni 2010/hidayatullah.com] </p>
</p>
<div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:7b7052af-a79c-46e0-9022-69ddf7e9cfde" class="wlWriterEditableSmartContent">Technorati Tags: <a href="http://technorati.com/tags/budi+pekerti" rel="tag">budi pekerti</a>,<a href="http://technorati.com/tags/pendidikan" rel="tag">pendidikan</a>,<a href="http://technorati.com/tags/dunia+pendidikan" rel="tag">dunia pendidikan</a>,<a href="http://technorati.com/tags/karakter+bangsa" rel="tag">karakter bangsa</a>,<a href="http://technorati.com/tags/budaya+bangsa" rel="tag">budaya bangsa</a>,<a href="http://technorati.com/tags/budaya" rel="tag">budaya</a>,<a href="http://technorati.com/tags/video+ariel+luna+maya+cut+tari" rel="tag">video ariel luna maya cut tari</a>,<a href="http://technorati.com/tags/video+3gp" rel="tag">video 3gp</a>,<a href="http://technorati.com/tags/the+jek+ngesbray" rel="tag">the jek ngesbray</a>,<a href="http://technorati.com/tags/video+mesum" rel="tag">video mesum</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/07/lagi-kasus-video-mirip-ariel-luna-maya-dan-cut-tari-perlukah-pendidikan-berkarakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Pertemuan</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/07/indahnya-pertemuan/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/07/indahnya-pertemuan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 00:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sidik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar BEC]]></category>
		<category><![CDATA[haru]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[menyenangkan]]></category>
		<category><![CDATA[pertemuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nur Hanifah, S. Pd Sore itu. Saya bersama suami dan anak-anak berangkat belanja untuk keperluan rumah singgah. Setelah belanja kebutuhan dapur, kami melanjutkan untuk belanja keperluan lainnya ke sebuah toko di jl. Surya kencana. Tak perlu menyebutkan nama tokonya, nanti dianggap promosi. Kegiatan belanja menjadi hal rutin yang kami lakukan setelah rumah singgah (asrama) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Nur Hanifah, S. Pd</p>
<p style="text-align: justify;">Sore itu. Saya bersama suami dan anak-anak berangkat belanja untuk keperluan rumah singgah. Setelah belanja kebutuhan dapur, kami melanjutkan untuk belanja keperluan lainnya ke sebuah toko di jl. Surya kencana. Tak perlu menyebutkan nama tokonya, nanti dianggap promosi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan belanja menjadi hal rutin yang kami lakukan setelah rumah singgah (asrama) yang berisi sekitar  50 anak asuh mulai aktif. Kalau biasanya cukup belanja 1 bulan sekali, saat ini hampir seminggu 1 atau 2 kali kami harus menyempatkan waktu untuk belanja, capek namun menyenangkan. Sengaja saya pilih toko grosir agar barang yang kita beli harganya murah. Gerah memang karena tanpa AC, namun puas karena mendapat harga yang miring.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebutuhan yang cukup banyak selalu membuat keranjang belanja kami penuh dengan barang. 5 karung beras, 1 peti telur, 1 dus minyak, gula, tepung, kacang ijo, serta barang dapur lainnya selalu mengisi bagasi mobil, yang Alhamdulillah bisa mengantar kami menjelajah toko sembako yang murah. Pada saat membayar pasti selalu ditanya sama kasirnya “Mau hajatan Bu?”. Mungkin wajah saya bukan wajah bakul sehingga dikira orang yang akan hajatan dengan begitu banyaknya barang belanjaan. Hmmm begini ternyata rasanya kalau punya anak banyak. Alhamdulillah….selalu ku syukuri pertemuan dengan Yayasan ini, dan terutama dengan pemilik yayasan ini karena dari Beliau, saya belajar banyak hal tentang kebaikan, berbagi kebahagiaan, berbagi kasih sayang dengan siapapun…terutama dengan mereka yang kurang beruntung dalam hal ekonomi.</p>
<p style="text-align: justify;">50 anak asuh dengan karakter  dan latar belakang yang berbeda cukup membuat kami repot dalam mengawasi setiap hari….agak berat pada awalnya….ada yang mau kabur (sekarang sudah cukup nurut), ada yang nangis pengin pulang, ada yang suka “kepingin” barang temannya, ada yang minta dispesialkan,ada yang menjengkelkan,  namun banyak pula yang bisa membuat kami  tertawa dan terharu setiap bertemu mereka. Alhamdulillah…..dari mereka aku diingatkan untuk selalu bersyukur atas semua nikmat dariMu, belajar lebih sabar dengan anak-anak kandungku dan mencintai anakku dan anak asuh dengan lebih tulus. Betapa senangnya melihat mereka makan dengan lahapnya walaupun musti agak cerewet agar mereka mau disiplin dan menjaga kebersihan dan kerapihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, setelah belanja kami mampir di masjid Raya bogor untuk sholat magrib, dan alangkah kagetnya ketika ada seorang jamaah yang duduk didepanku tiba-tiba menengok dan menyapaku. Sungguh aku tak ingat wajahnya, namun kuyakin kalau dia salah satu siswa di BEC. “ maaf, saya lupa sama kamu, tapi saya yakin kamu salah satu muridku”, kataku. “ iya mom, saya fulan dari angkatan 12, tapi saya kena DO di Cawu…”katanya. Kebetulan saya ketemu Mom, saya pengin cerita banyak sama Mom.”  Dan ahirnya mengalirlah cerita yang cukup banyak….dan insyaallah dia mendapatkan semangat untuk selalu belajar setelah lulus duluan dari BEC, dan yang pasti tidak putus asa dan dapat terus berkarya. Ya Allah…terima kasih …saya bisa merasakan bertemu dengan orang yang penuh semangat…bahkan yang dulu sewaktu masih menjadi murid saya tidak begitu mengenalnya…namun pertemuan setelah sholat maghrib itu terasa sangat akrab dan terasa hangat walau hanya sebentar, saya bahagia bertemu dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali pertemuan-pertemuan dalam hidup kita yang “uncertain” tapi sebenarnya sangat indah. Andai kita mau merenungkan, begitulah jalan hidup ini, banyak kebahagiaan yang bisa kita bagi. Rasa syukur dalam diri akan lebih membuat hati tenteram dan tenang. Semoga pertemuan-pertemuan saya dengan siapapun juga, walaupun hanya lewat tulisan ini bisa member kebahagiaan dalam hati kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/07/indahnya-pertemuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Some Kind of Wonderful</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/05/some-kind-of-wonderful/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/05/some-kind-of-wonderful/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 15:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sidik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar BEC]]></category>
		<category><![CDATA[BEC]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor EduCARE]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=629</guid>
		<description><![CDATA[Education is a necessity, not a luxury. That&#8217;s why Nur Hanifah runs a free school in Bogor, West Java. Gia Wicaksana pays her a visit to find out why—and how—she does it. FOR TOO MANY YOUTH in Indonesia, higher education is wishful thinking. When their own belly is empty, their little siblings are not doing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Education is a<sup> </sup>necessity, not a luxury. That&#8217;s why Nur Hanifah runs a free school in Bogor, West Java. Gia Wicaksana pays her a visit to find out why—and how—she does it.</p>
<p style="text-align: justify;">FOR TOO MANY YOUTH in Indonesia, higher education is wishful thinking. When their own belly is empty, their little siblings are not doing well, and the house itself is falling apart, survival instincts kick in and formal education takes a backseat. Couple this conundrum with the ever-rising cost of living and it&#8217;s no wonder that the underprivileged are forced to enter the workforce before they can reach their fullest employability potential.<span id="more-629"></span><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/1.jpg"><img class="size-medium wp-image-631 aligncenter" title="1" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/1-211x300.jpg" alt="" width="135" height="192" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">This results in piecemeal earnings with no real prospects and thus, not much hope to change the family&#8217;s future for the better. In 2001, a private Indonesian educational institution came along to change all this. Located in Bogor, West Java, Bogor EduCare (BEC) attends to poverty-stricken young adults who are not able to continue their education after high school. The institution teaches business administration skills together with Islamic values. This is designed to not only prepare students for the work force, but to also enrich their spirituality. The price tag for all this? Zero. That&#8217;s right, education at Bogor EduCare is absolutely free—they provide everything from books to lunches. In short, BEC offers these young adults a light at the end of their poverty-stricken tunnel.</p>
<p style="text-align: justify;">The young woman behind the school is Nur Hanifah, aged 32. The school headmistress dedicates all her time and passion into this institution, caring for little else other than the absolute wellbeing of her students. She believes that everyone is utterly capable in increasing their welfare, but education determines their self-assurance to do so. Hence, BEC&#8217;s main mission is to ensure that each student receives adequate knowledge <sup>to </sup>survive in this world</p>
<p style="text-align: justify;">and to escape the vicious cycle of poverty. Being the co-founder, Nur had gone through her fair share of ups and downs with BEC and today, she has succeeded in her undertakings.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Why was BEC created? </em></p>
<p style="text-align: justify;">The idea came up during Indonesia&#8217;s &#8217;97 monetary crisis. The CEO of PT Bukaka Teknik Utama and BEC&#8217;s founder, Achmad Kalla, witnessed so many children quit school because their parents lost their jobs. At that time, I was working for that company, and we decided that we wanted to help the affected children continue their education, to be independent and to eventually increase their family&#8217;s welfare. The idea was to set up an educational institution that is absolutely free for the needy&#8230; and thus, BEC was born—purely to help.</p>
<p style="text-align: left;"><em>How did people react when they first heard of BEC?</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/2.jpg"><img class="size-medium wp-image-632 aligncenter" title="2" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/2-165x300.jpg" alt="" width="165" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">At first, it was extremely hard for us to get students, because nobody believed that such a good offer is available for free—people assume that we must have some kind of hidden</p>
<p style="text-align: justify;">agendas. Therefore, for the first four years, we had very few students because nobody believed in our sincere good cause. Slowly, however, people saw the positive outcomes of BEC&#8217;s students, and word of mouth started to spread around that we are an honest educational institution that requires no fees whatsoever from the students. Alhamdulillah, as a result, more and more people have trusted us. Currently we have around 250 students, but we are aiming for 300 students this year—the school&#8217;s maximum capacity is around 450.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>How was BEC&#8217;s condition when it was first set up?</em></p>
<p style="text-align: justify;">For the first six years, the condition of our school building and facilities were poor. We rented a small, two-storey house in the Panaragan area, and divided the small rooms into even tinier classrooms. Our computers were very outdated—our most sophisticated one was a Pentium 1—and we assembled our own computer desks. During those years, I doubt if the school would survive. One day during Ramadhan in 2007, Mr Kalla came to visit us. He saw the students cramped in the small classrooms, jostling to break fast together.</p>
<p style="text-align: justify;">Moved, he held a meeting with his company&#8217;s Board of Directors. Soon after Hari Raya, the construction of our current school began. Now, we have a very decent building with spacious classrooms and superior facilities, such as a computer lab and a sport field. Alhamdulillah, it&#8217;s probably part of Ramadhan&#8217;s blessings. In fact, working here has indeed given us all <sub>s</sub>o many blessings. Probably that&#8217;s why I have stayed throughout these years.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>What is the BEC programme like?</em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/3.jpg"><img class="size-medium wp-image-633 aligncenter" title="3" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/3-300x290.jpg" alt="" width="149" height="145" /></a>Initially, we wanted to focus on English in our one-year courses. However, we figured out that employers seek a different skillset. After doing some research, we found out that the best formula to cater to this demand consists of 50 per cent English language skills, 20 per cent computer or IT skills, 20 per cent office administration skills and 10 per cent soft skills. This formula is similar to a Business Administration course. However, we are flexible and open to modifications, as demand changes continually. This is one of our advantages of not being bound to the General Directorate of Higher Education,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>What is </em><em>BEC&#8217;s </em><em>biggest challenge </em><em>nowadays?</em></p>
<p style="text-align: justify;">I think our biggest challenge today is keeping the students in school until they graduate and are ready for work. The thing is, BEC has quite a high academic standard. Therefore, there are always expellees who got dismissed every year. We aim for only 5 per cent dismissals every year, but up till now, it is still around 15 per cent. The key is keeping them motivated. We have many students that are capable to get high grades, but because of external situations—for example, their parents&#8217; divorces—they feel down and lose all spirit. In some cases, there&#8217;s not much we can do to change their minds.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Can you tell us more about </em><em>BEC&#8217;s </em><em>graduation requirements?</em></p>
<p style="text-align: justify;">To pass, the students&#8217; GPA cannot be lower than 2.00, nor can they have a D. We also monitor their behaviour and attendance records, as we want them to be disciplined and committed to their studies. It is not always easy for them, but we cannot lower the standards.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>How </em><em>are </em><em>BEC&#8217;s </em><em>students doing after they graduate?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ninety per cent of our graduates manage to land decent<sub>j</sub>obs or start their own businesses. A couple of students became journalists in Radar Bandung and Jurnal Bogor (newspapers). Some others found work in big national companies such as PT Bosowa and PT Sampoerna in high positions. Some of them, after they become financially capable, enroll themselves in colleges and universities to obtain higher degrees. That is actually one of my messages to them—to never stop learning.</p>
<p style="text-align: justify;">Overall, I can say that BEC&#8217;s graduates have always managed to improve their life and their family&#8217;s, and that means our mission&#8217;s accomplished.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>How </em><em>can people help, besides donating money?</em></p>
<p style="text-align: justify;">We always need people who could volunteer their expertise and skills through our public lecture sessions. Our students look forward to these to broaden their horizons.</p>
<p style="text-align: justify;">Another thing we need here is a psychologist. We have many students who need mental support. Teachers and academic advisors can only assume their psychological problems, but I want my students to receive professional help. We also desperately need health support. Our students</p>
<p style="text-align: justify;"><em>That is actually one of my messages to them—to never stop learning.</em></p>
<p style="text-align: justify;">often have serious illnesses or injuries, but they don&#8217;t bother to take them seriously since they don&#8217;t have the money to check them up. I&#8217;ll give you an example, which happened recently. A student met with a bike accident. However, he never told us about it and appeared fine until he started having vision problems. Suddenly, his condition worsened and he couldn&#8217;t go to school. When we visited him, he was already in a coma. We hurried him to the hospital for a CT scan, but it was all too late. After two days in the hospital, he passed away, right in front of our eyes. It was fate, I&#8217;m sure, but I also believe we could&#8217;ve done something to save him. I&#8217;m still very sad whenever I think of him.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>You </em><em>are also a wife and a mother. How do you </em><em>manage your time?</em></p>
<p style="text-align: justify;">I have three small kids-6, 4, and 2-years old. I work all day, so they have someone taking care of them when I work, and I monitor them via the phone throughout the day. My rule of thumb is to never bring work back home so I can focus on them. At weekends, I often have to go to BEC to take care of things, so the kids come with me. Therefore, BEC has become their weekend place. They love it here since they can run around freely on its grounds.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Do you have any thoughts about our current education system?</em></p>
<p style="text-align: justify;">My hope is for Indonesia to make its education system more affordable and better in quality. It frustrates me that schooling is so expensive nowadays, yet, they still use the drilling method that forces students to memorise theories instead of making them understand the concepts. In other words, students pay a high fee only to be turned into robots.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>What is </em><em>your </em><em>message for </em><em>young people who cannot </em><em>afford </em><em>further education?</em></p>
<p style="text-align: justify;">In Indonesia, there are actually a number <a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/4.jpg"><img class="size-medium wp-image-634 aligncenter" title="4" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/4-300x230.jpg" alt="" width="184" height="140" /></a>of free education foundations, for example Insan Cendikia, and BEC, of course. Although there aren&#8217;t too many of us, we do exist. So people just need to dig up the information to access free education. The key is to never give up.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">====================</p>
<p style="text-align: center;">AQUILA MAGAZINE: MAY-JUNE 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/05/some-kind-of-wonderful/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Everlasting UAN Story</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/05/everlasting-uan-story/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/05/everlasting-uan-story/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 09:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wkf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[uan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian akhir nasional]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>
		<category><![CDATA[un]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Betul juga kata Menteri Pendidikan Nasional bahwa UAN itu bagaikan lab. Hasilnya seperti apapun bukan masalah. Misalnya setelah periksa darah kok hasilnya memperlihatkan hb darah yang rendah, biarin saja. Jadi, jika hasil UAN menunjukkan 100% gagal, itu hal yang wajar. Namun bila anak menteri itu yang tidak lulus UAN kemudian bunuh diri, barangkali akan lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/everlasting-uan-story.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-617" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/everlasting-uan-story.jpg" alt="" width="150" height="333" /></a>Betul juga kata Menteri Pendidikan Nasional bahwa UAN itu bagaikan lab. Hasilnya seperti apapun bukan masalah. Misalnya setelah periksa darah kok hasilnya memperlihatkan hb darah yang rendah, biarin saja. Jadi, jika hasil UAN menunjukkan 100% gagal, itu hal yang wajar. Namun bila anak menteri itu yang tidak lulus UAN kemudian bunuh diri, barangkali akan lain ceritanya.</p>
<p><span id="more-616"></span></p>
<p>Ujian Akhir Nasional atau UAN yang diselenggarakan belum lama ini kembali menjadi hal yang kontroversial. Munculnya berbagai kasus siswa yang nekat mengakhiri hidup atau ramai-ramai menghancurkan sekolahnya sendiri akibat tidak lulus UAN dianggap angin lalu oleh pemerintah. Standar pendidikan yang menjadi fokus pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional menjadikan pemerintah seperti kuda yang dipakaikan kacamata. Faktor psikologis siswa yang justru lebih penting dibandingkan sekedar nilai akademis tidak terlihat atau lebih tepatnya tidak digubris oleh pemerintah. Apakah perolehan nilai akademis yang tinggi dapat menjadi indikator meningkatnya mutu pendidikan? Saya rasa itu pikiran yang naif mengingat banyaknya kecurangan untuk mendongkrak nilai yang dilaporkan. Tidak seharusnya ambisi pemerintah meningkatkan mutu pendidikan dengan mengorbankan anak bangsa. Seorang siswa itu merupakan mahluk hidup  yang tidak hanya sekedar mesin yang dapat di-<em>upgrade</em> begitu saja layaknya komputer. Hanya dengan menaikkan spesifikasi CPU yang lebih tinggi otomatis kemampuan akan meningkat. Peningkatan kualitas siswa seharusnya memperhitungkan juga sisi psikologis siswa.</p>
<p>Sudah sering dipaparkan di media tentang kualitas pendidikan yang tidak seragam antara satu daerah dengan yang lain. Bisa anda bayangkan alangkah akan tersengal-sengalnya siswa dari pedalaman Kalimantan bila dilawankan dengan pelajar dari Jakarta. Beberapa laporan dari dosen Universitas Pakuan Bogor menyebutkan betapa lemahnya mahasiswa-mahasiswa asal Papua yang dikirim pemerintah daerahnya untuk studi di perguruan tinggi itu. Anda pasti yakin bahwa mereka yang dikirim belajar itu tentunya bukan lulusan-lulusan SMA yang biasa-biasa saja. Namun pada kenyataannya mereka ketinggalan jauh dibandingkan mahasiswa lain yang berasal dari Bogor dan sekitarnya. Contoh satu kasus yang ditemukan di lapangan itu cukup dapat menjadi bukti perbedaan kualitas pendidikan yang ada di daerah dan di pusat.</p>
<p>Sikap <em>keukeuh</em> pemerintah melaksanakan UAN menyebabkan munculnya banyak tanda tanya. Dugaan terkuat adalah yang berkaitan dengan sangat besarnya nilai rupiah dalam pelaksanaan UAN yang akan dinikmati panitia pelaksana. Anggaran UAN 2010 sebesar hampir 573 miliar bukanlah kecil. Yang diterima petugas pemantau ujian saja lumayan besar, apalagi pada tingkat yang lebih tinggi. Sehingga dianggap tidak aneh bila meskipun pihak pemerintah dulu pernah dilarang Mahkamah Agung menyelenggarakan Ujian Nasional, sebagai pemegang kekuasaan bidang pendidikan melalui Departemen Pendidikan Nasional mereka tetap menyelenggarakan.</p>
<p>Dugaan uang besar di balik pelaksanaan UAN tentu saja perlu pengusutan serta pembuktian dan itu tidak gampang. Pasti akan terjadi keruwetan dan jurus <em>patgulipat</em> akan dimainkan bila ada yang berusaha membongkar ’skandal’ UAN. Dan anda bisa menebak siapa yang kemungkinan besar akan menang. Setiap muncul masalah termasuk di bidang pendidikan, selalu bermuara pada UUD, ujung-ujungnya duit. Apakah manusia Indonesia ini sebagian besar mata duitan?</p>
<p>UAN memang bukan berita baru sekarang. Namun, proyek pemerintah yang dinilai cacat hukum itu akan terus akan menjadi berita baru yang memprihatinkan setiap tahunnya karena selalu menghasilkan cerita-cerita menyedihkan tentang anak didik kita. Mudah-mudahan di negeri ini akan muncul pemerintahan yang mau mendengarkan dan memahami ratapan rakyatnya.</p>
<p>Adi Purwanto<br />
<a href="http://wongkamfung.wordpress.com" target="_blank">http://wongkamfung.wordpress.com</a></p>
<p>Sumber gambar: <a href="http://www.cartoonstock.com/directory/c/committing_suicide.asp" target="_blank">di sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/05/everlasting-uan-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Visioner</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/04/manusia-visioner/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/04/manusia-visioner/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 02:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wkf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[visioner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Organisasi apapun, termasuk institusi pendidikan, akan maju bila yang mengendalikan adalah orang-orang visioner yang dikepalai seorang pemimpin visioner pula. Lalu, seperti apa ciri-ciri orang visioner itu? Sudah pasti semua orang memiliki tiga masa: masa lalu, masa kini, masa depan. Anda merasa memiliki tiga masa itu juga kan? Namun, tidak semua orang merupakan manusia visioner. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/04/manusia-visioner.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-603" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/04/manusia-visioner-184x300.jpg" alt="" width="184" height="300" /></a>Organisasi apapun, termasuk institusi pendidikan, akan maju bila yang mengendalikan adalah orang-orang visioner yang dikepalai seorang pemimpin visioner pula. Lalu, seperti apa ciri-ciri orang visioner itu?</p>
<p><span id="more-602"></span></p>
<p>Sudah pasti semua orang memiliki tiga masa: masa lalu, masa kini, masa depan. Anda merasa memiliki tiga masa itu juga kan? Namun, tidak semua orang merupakan manusia visioner. Ada orang-orang yang kartunis Benny &amp; Mice mengistilahkannya dengan sebutan terjebak masa lalu. Orang ini seolah-olah tidak terpengaruh dengan kemajuan jaman. Kemudian, ada juga yang merasa hidupnya hanya untuk sekarang. Apa yang dilakukan semata-mata untuk hari ini. Dia tidak peduli dengan dua masa yang lain. Masa lalu sudah terlupakan, masa depan tidak pernah terpikirkan. Jadi, inilah orang yang hidup di masa kini. Sedangkan orang-orang yang selalu memikirkan rencana ke depan dan merealisasikannya, mereka bisa disebut sebagai manusia visioner. Orang-orang seperti ini biasanya juga mempertimbangkan masa lalu dan memperhitungkan masa kini ketika menyusun rencana. Mereka memiliki mimpi yang selanjutnya diterjemahkan menjadi visi dan misi.</p>
<p>Dalam dunia pendidikan, apa yang terjadi bila orang-orang bukan visioner yang menjalankan roda organisasi? Sudah pasti institusi pendidikan yang dijalankan dan dikomandoi oleh orang yang terjebak masa lalu akan jalan di tempat, mandek, kemudian mati karena ketinggalan jaman. Kalaupun bertahan, bak cendawan di musim kemarau, hidup segan mati tak mau.</p>
<p>Sangat jelas untuk bisa mengidentifikasi mereka yang terjebak di masa lalu. Meskipun mereka mengingkarinya, pada prakteknya mereka secara tidak sadar suka menunjukkan pola pikir yang ketinggalan jaman. Salah satu ciri yang gampang diidentifikasi adalah dari cara mereka berbicara. Orang-orang yang sering mengatakan, “Dulu kampus ini begitu luar biasa &#8230; Saya masih ingat ketika &#8230; Di awal-awal lembaga ini berdiri &#8230;” dan masih banyak lagi ucapan-ucapan lain yang mengacu ke masa lalu, adalah mereka yang berorientasi sejarah. Tentu saja, tidak ada salahnya kita menengok kembali ke masa lalu. Namun bila masa yang sudah lewat itu menjadi standar atau ukuran sebuah keberhasilan maka mulailah jebakan itu berfungsi. Kadang-kadang mereka menyangkal saat dikatakan ketinggalan jaman. Memang mereka mengajukan ide-ide masa depan yang terdengar dan terlihat luar biasa. Kenyataannya, hal itu hanya sebatas wacana. Apa yang direncanakan tidak pernah dijalankan. Mereka sudah cukup puas dengan keadaan sekarang sambil tersenyum ceria mengingat prestasi tempo dulu. Sementara itu waktu terus berjalan, teknologi terus berkembang. Orang-orang masa lalu ini telah dibutakan dengan kejayaan yang sudah tidak ada gunanya sekarang. Bisa disimpulkan, mereka yang berorientasi masa lalu adalah orang-orang yang takut pada perubahan.</p>
<p>Kurikulum institusi pendidikan yang terjebak masa lalu sudah pasti tidak relevan lagi dengan waktu sekarang. Banyak mata pelajaran/kuliah yang tidak dikembangkan sesuai situasi dan kondisi saat ini. Jangankan untuk antisipasi ke depan, yang aplikatif untuk masa kini saja minim sekali. Dengan demikian, tidak heran bila bahan ajar yang digunakan itu-itu saja sejak dulu. Mereka malas atau tidak punya keinginan untuk meng-<em>update</em> bahan ajar yang sudah ’kadaluwarsa’. Apalagi orang-orang itu misalnya termasuk orang yang <em>gaptek</em> alias gagap teknologi, akan semakin besar kendala yang dihadapi untuk memperbaharui bahan ajar. Mereka juga berdalih bahwa bahan yang ada sekarang masih baik dan bisa digunakan. Sebagai akibatnya, lulusan dari institusi pendidikan yang ketinggalan jaman itu akan ditolak oleh pasar tenaga kerja karena keahlian dan pengetahuan yang dimiliki sudah ketinggalan jaman.</p>
<p>Beda lagi dengan institusi pendidikan yang dikelola oleh orang-orang yang <em>up to date,</em> mereka yang mengikuti perkembangan jaman. Institusi pendidikan yang seperti ini selalu akan berubah sesuai tuntutan pasar tenaga kerja dan jaman. Namun demikian apabila adaptasi yang dilakukan hanya bersifat reaktif maka organisasi ini bisa tergilas apabila perubahan yang terjadi di luar kemampuannya. Orang-orang yang berorientasi sekarang hanya melakukan pembaharuan sesuai dengan seluruh sumber daya yang dimiliki saat ini. Artinya, mereka tidak memiliki cadangan sumber daya sebagai tindakan antisipasi bila terjadi <em>chaos</em>. Dan mereka akan mati kutu ketika keadaan yang <em>chaos</em> itu menjadi <em>turbulence</em>.</p>
<p>Bagaimana dengan institusi pendidikan di tangan visioner? Bila pengelolaannya benar, bisa dipastikan organisasi ini akan melejit. Seperti apa institusi pendidikan yang visioner itu? Coba anda perhatikan apa yang dilakukan oleh institusi di mana anda ada di dalamnya. Sebuah institusi pendidikan yang visioner akan melengkapi dirinya dengan sarana prasarana moderen. Ibarat prajurit yang akan berangkat perang, dia akan membekali diri dengan senjata yang mutakhir. Meskipun senjata itu demikian mahal, dia tetap berusaha memiliki karena dia sadar bahwa itulah cara yang harus dilakukan untuk bisa memenangkan pertempuran. Institusi pendidikan visioner akan melengkapi sarana belajar mengajarnya dengan teknologi terkini baik untuk sarana utama maupun penunjang.</p>
<p>Itu dari segi sarana prasarana. Institusi pendidikan di tangan visioner tidak akan berhenti sampai di situ. Apalah artinya peralatan yang moderen dan canggih, gedung yang megah, jika orang-orangnya tidak bisa mengoperasikan dan merawat. Untuk itulah, sumber daya yang ada pasti akan di-<em>upgrade</em> agar memiliki keterampilan dan pengetahuan yang lebih tinggi dan variatif. Menyekolahkan, mengirim ke pelatihan atau kursus, membiayai untuk acara seminar adalah beberapa cara yang akan dilakukan institusi visioner. Mereka sadar bahwa sumber daya manusialah yang sebenarnya kunci kesuksesan dan aset yang terpenting. Langkah itu juga merupakan tindakan yang bukan hanya sekedar reaktif tetapi sudah bersifat proaktif. Sedia payung sebelum hujan. Manusia visioner bukan hanya bertindak proaktif tetapi juga berpikir strategis.</p>
<p>Bagi institusi pendidikan visioner, melengkapi sarana prasarana dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya adalah wajib hukumnya. Jika anda pernah dikirim ke pelatihan atau disekolahkan ke jenjang lebih tinggi oleh institusi anda dan itu masih terus berlangsung sampai sekarang, bergembira dan bersyukurlah. Itu artinya tempat anda bekerja dikelola oleh orang-orang visioner. Karena orang-orangnya visioner, otomatis organisasinya juga visioner. Mahal? Pasti! Tapi itu bagi manusia-manusia yang berorientasi masa lalu. Untuk kaum visioner, biaya yang dikeluarkan itu sangat murah bila dibandingkan dengan nilai masa depan yang akan diraih nanti.</p>
<p>Tidak ada yang <em>impossible</em> bagi para visioner. Beda dengan manusia-manusia <em>jadul</em> yang terjebak masa lalu. Bagi mereka yang ketinggalan jaman, membeli peralatan moderen dan mahal serta meng-<em>upgrade</em> sumber daya manusianya adalah MI alias <em>Mission: Impossible</em>.</p>
<p>Adi Purwanto<br />
<a href="http://wongkamfung.wordpress.com" target="_blank"><em>http://wongkamfung.wordpress.com</em></a></p>
<p><span style="text-decoration: underline">Sumber gambar</span>: <em>100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta</em> oleh Benny &amp; Mice.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/04/manusia-visioner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Digugu lan Ditiru</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/04/digugu-lan-ditiru/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/04/digugu-lan-ditiru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 03:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wkf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Dosen]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya dunia ajar mengajar bukan barang baru buat saya. Tahun 1992 s/d 2001, ketika saya kerja di perusahaan yang memasarkan produk telekomunikasi dari Perancis, kegiatan menularkan ilmu sudah saya jalani. Karena menduduki posisi yang tugasnya mengelola dealer di seluruh Indonesia yang menjadi distributor produk Perancis tersebut, memperkenalkan produk baru dan fasilitasnya juga menjadi bagian dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/04/bec-digugu-lan-ditiru.jpg"><img class="size-full wp-image-574 aligncenter" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/04/bec-digugu-lan-ditiru.jpg" alt="" width="350" height="208" /></a></p>
<p style="text-align: justify">Sebenarnya dunia ajar mengajar bukan barang baru buat saya. Tahun 1992 s/d 2001, ketika saya kerja di perusahaan yang memasarkan produk telekomunikasi dari Perancis, kegiatan menularkan ilmu sudah saya jalani. Karena menduduki posisi yang tugasnya mengelola dealer di seluruh Indonesia yang menjadi distributor produk Perancis tersebut, memperkenalkan produk baru dan fasilitasnya juga menjadi bagian dari pekerjaan saya saat itu. Meskipun tidak berstatus sebagai guru atau dosen, pekerjaan seperti yang mereka lakukan juga saya kerjakan.</p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-573"></span></p>
<p style="text-align: justify">1 September 2001, saya <em>resign</em> dari perusahaan itu. Uang pesangon yang saya terima, saya belikan satu set komputer untuk mendukung kegiatan baru yang mulai saya rintis, mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak sekolah dasar. Sejak saat itu, mulailah saya menggeluti kegiatan sebagai pengajar.</p>
<p style="text-align: justify">Menjadi pengajar bukan profesi yang gampang, tapi juga bukan pekerjaan yang sulit untuk dilakukan. Setelah praktek langsung dan membaca berbagai referensi pengajaran, ada benang merah yang bisa saya tarik. (Kenapa selalu benang merah ya? Padahal seluruh warna itu indah. Yang nggak indah itu kalau buta warna.) Banyak pengetahuan, trik, teknik, tip, atau apapun istilahnya, tentang cara mengajar yang bisa dicoba. Tetapi bagi saya, yang terpenting adalah bukan segala sistem dan tetek-bengeknya, melainkan pelakunya sendiri. Pengajarnya. Sebagus apapun kurikulum yang disusun, pengajar sampah tetap sampah. Secanggih apapun komputer yang dijadikan sarana penunjang, guru yang tidak <em>qualified</em> akan tetap kelihatan.</p>
<p style="text-align: justify">Antara mahasiswa dan dosen, antara murid dan guru, adalah sama. Mereka semua manusia, yang memiliki akal, emosi, dan hati nurani. Bila ada pengajar yang menyakiti hati anak didiknya, jangan berharap akal siswanya mau menerima apa yang dia berikan. Kalau emosi negatif siswanya yang dimunculkan, seorang pengajar hanya akan menerima penolakan. Bila dunia pendidikan dianalogikan dengan dunia pertanian (kebetulan saya suka tanam-menanam dan pecinta tumbuhan): siswa merupakan benih atau bibitnya; pengajar adalah petaninya; sarana prasarana seperti laboratorium, kurikulum dll. sebagai cangkul, sabit, dan traktornya; sekolah dan ruang kelas menjadi lahan pertumbuhan. Lalu siapa pupuknya? Kasih sayang, semangat, dan motivasi. Itulah yang harus terus diberikan.</p>
<p style="text-align: justify">Segala hal tersebut memang saling terkait. Bibit yang baik akan tumbuh prima bila ditangani dengan benar oleh petani yang ahli. Tetapi manusia berbeda dengan tanaman. Tumbuhan akan mati merana bila tidak diapa-apain, sedang manusia akan berupaya mencari jalan untuk tetap hidup. Murid yang bodoh bukan berarti wajib dijadikan bahan ledekan di dalam kelas. Sebaliknya, siswa yang pintar tidak harus selalu mendapat pujian di depan kelas. Dua-duanya bisa menjadi bumerang bila terus dilakukan. Si bodoh akan <em>’down’</em> dan tidak percaya diri, sementara si pintar menjadi besar kepala dan arogan. Semua memang harus dikerjakan sesuai porsinya. Kalau porsi makan anda setengah piring, akan sakit perut bila makan sepiring. Bila biasa dua piring, makan sepiring hanya akan membuat sakit perut juga, alias lapar. Sengaja saya berikan kesamaan dengan makanan, karena kalau urusan makan, anda pasti lebih gampang mengerti. Ya nggak? Ngaku sajalah.</p>
<p style="text-align: justify">Pendidikan itu bukan hanya penting, tapi sungguh amat sangat penting. Sampai-sampai, karena begitu pentingnya, Nabi Muhammad memerintahkan supaya belajar semenjak lahir sampai sebelum masuk liang kubur. Kalau organisasi milik PBB, UNESCO -<em>United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization</em>- menerapkan program ‘<em>long life</em> <em>education’</em> yang bisa jadi diilhami oleh sunah rosul tersebut, hal itu menunjukkan betapa berharganya pendidikan. Jepang adalah contoh negara yang mengetahui betapa pentingnya pendidikan. Ketika Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan oleh bom tahun 1945, yang bisa dilakukan Jepang adalah menyerah kepada tentara sekutu. Setelah itu, hal pertama yang dilakukan bukanlah mengembalikan Hiroshima dan Nagasaki seperti semula. Ini yang menarik, Jepang mengumpulkan seluruh pengajar yang masih selamat. Mereka dipersiapkan untuk mendidik generasi muda Jepang menjadi manusia kelas dunia. Pendidikan mendapat prioritas yang pertama. Hasilnya, Jepang yang kecil dan miskin sumber daya alam, sekarang ini menjadi negara kaya di tingkat dunia. Kualitas manusianya diakui di seluruh dunia. Bila abg-abg kita dengan bangganya menenteng hp versi terbaru, maka abg-abg Jepang sudah mampu membuat dan mendesain hp. Padahal, tahun 1945 negara mereka bukan apa-apa. Hanya dalam jangka waktu 65 tahun, bila dihitung sampai tahun ini, Jepang telah mengalami fase metamorfosis layaknya kupu-kupu yang dari seekor ulat menjijikkan berubah menjadi kupu-kupu indah yang memikat siapa saja. Keajaiban sebuah negara kecil yang sebenua dengan negara besar Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify">Setiap kali seorang pengajar ada di ruang kelas seharusnya berusaha bukan sebagai sosok yang mesti dihindari, apalagi ditakuti, tapi sebagai teman yang siap membantu. Di luar pun dia harus berbuat sama. Memberikan saran bila dibutuhkan, menjadi pendengar yang baik bila diperlukan. Sudah seharusnya, seorang guru atau dosen bukan</p>
<p>Adi Purwanto<br />
<a href="http://wongkamfung.wordpress.com" target="_blank"><em>http://wongkamfung.wordpress.com</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/04/digugu-lan-ditiru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>H.M. Jusuf Kalla di Bogor EduCARE (BEC)</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/02/h-m-jusuf-kalla-di-bogor-educare-bec/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/02/h-m-jusuf-kalla-di-bogor-educare-bec/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 13:04:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar BEC]]></category>
		<category><![CDATA[BEC]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Kunjungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/2010/02/h-m-jusuf-kalla-di-bogor-educare-bec/</guid>
		<description><![CDATA[Bogor EduCARE merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berusaha membantu kaum dhuafa lulusan SMA/Sederajat dalam membekali kehidupan dengan ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang didapatkan di SMA akan ditambahkan dan dimatangkan ketika di BEC. Tidak hanya dalam ilmu-ilmu profesi yang bermanfaat dalam mencari kebutuhan hidup saja tetapi juga ilmu-ilmu syar’i untuk bekal dalam menghadapi kehidupan. Bogor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8070.jpg"><img class="alignleft" style="display: inline; margin: 5px; border: 0pt none;" title="PICT8070" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8070_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8070" width="244" height="184" align="left" /></a> <a href="http://bogoreducare.org/" target="_blank">Bogor EduCARE</a> merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berusaha membantu kaum dhuafa lulusan SMA/Sederajat dalam membekali kehidupan dengan ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang didapatkan di SMA akan ditambahkan dan dimatangkan ketika di BEC. Tidak hanya dalam ilmu-ilmu profesi yang bermanfaat dalam mencari kebutuhan hidup saja tetapi juga ilmu-ilmu syar’i untuk bekal dalam menghadapi kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://bogoreducare.org/" target="_blank">Bogor EduCARE</a> lembaga <a href="http://bogoreducare.org/" target="_blank">pendidikan/Kuliah GRATIS</a> yang membekali pengetahuan dan ketrampilan siap kerja kepada lulusannya. Sampai sekarang sudah 11 angkatan yang lulus, yang akan lulus tahun ini angkatan 12 (baru menyelesaikan Laporan Akhir), yang sedang belajar angkatan 13 dan akan menerima angkatan 14 pada tahun 2010 ini sebanyak 360 mahasiswa. Bogor EduCARE dibentuk oleh Yayasan Peduli Pendidikan Mandiri yang diketuai oleh Ir.H.Ahmad Kalla (AK), beliau adalah adik dari Ir.H.M.Jusuf Kalla biasa dipanggil JK (wakil presiden RI periode 2004-2009).</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-528"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hari Rabu, 3 Februari 2010 Ir.H.M.Jusuf Kalla mengunjungi kampus hijau Bogor EduCARE yang beralamat di Jl.Cikiray RT.03/06 Ds.Sukaraja, Kab.Bogor Jawa Barat, sebelum pindah ke alamat baru Bogor EduCARE berlokasi di Jl.Panaragan Kidul No.18 Kota Bogor.</p>
<p style="text-align: justify;">Kunjungan beliau ke BEC setalah kunjungan ke RS PMI Bogor, beliau sekarang merupakan ketua Palang Merah Indonesia (PMI). Di kampus BEC beliau berkeliling melihat secara keseluruhan fasilitas kampus hijau BEC dan berbincang-bincang dengan pengurus BEC, juga memberikan <em>wejangan</em> dan berdialog dengan mahasiswa yang baru belajar sekarang. Pastinya dengan gaya dan senyum khasnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SELAMAT DATANG DI KAMPUS HIJAU Bogor EduCARE PAK JK</strong>, SEMOGA KAMI BISA MENGIKUTI JEJAK LANGKAHMU MENGABDI DAN MEMBERI MANFAAT KEPADA BANGSA INI. DO’A KAMI SELALU MENYERTAI PAK JK, PAK AK DAN KELUARGA DAN SIAPAPUN YANG IKUT MEMBANTU KAMI DALAM MEMBEKALI HIDUP INI DENGAN ILMU-ILMU YANG BERMANFAAT.</p>
<p>web BEC : <a href="http://bogoreducare.org">http://bogoreducare.org</a></p>
<p>Group Facebook BEC : <a title="http://www.facebook.com/group.php?gid=278098978550#!/group.php?v=wall&amp;gid=278098978550" href="http://www.facebook.com/group.php?gid=278098978550#!/group.php?v=wall&amp;gid=278098978550">http://www.facebook.com/group.php?gid=278098978550#!/group.php?v=wall&amp;gid=278098978550</a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8039.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="PICT8039" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8039_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8039" width="244" height="184" /></a> <a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8043.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="PICT8043" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8043_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8043" width="244" height="184" /></a> <a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8044.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="PICT8044" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8044_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8044" width="244" height="184" /></a> <a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8045.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="PICT8045" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8045_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8045" width="244" height="184" /></a> <a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8047.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="PICT8047" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8047_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8047" width="244" height="184" /></a> <a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8049.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="PICT8049" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8049_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8049" width="244" height="184" /></a> <a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8050.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="PICT8050" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8050_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8050" width="244" height="184" /></a> <a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/Upload.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="PICT8059" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8059_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8059" width="244" height="184" /><img class="aligncenter" style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="PICT8065" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8065_thumb.jpg" border="0" alt="PICT8065" width="244" height="184" /><img class="size-medium wp-image-530  aligncenter" title="Upload" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/Upload-300x225.jpg" alt="" width="247" height="187" /></a></p>
<p><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/02/PICT8071.jpg"><br />
</a></p>
<div id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:1d35751e-2570-4487-a367-8f7704ae19b0" class="wlWriterEditableSmartContent" style="margin: 0px; display: inline; float: none; padding: 0px;">Technorati Tags: <a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/KULiah+GRATIS">KULiah GRATIS</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Beasiswa">Beasiswa</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Bogor">Bogor</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/Jusuf+Kalla">Jusuf Kalla</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/pendidikan">pendidikan</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/02/h-m-jusuf-kalla-di-bogor-educare-bec/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Akhir Cawu I (Angkatan 12)</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2008/12/ujian-akhir-cawu-i-angkatan-12/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2008/12/ujian-akhir-cawu-i-angkatan-12/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 03:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sidik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar BEC]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Seleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Test]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/2008/12/ujian-akhir-cawu-i-angkatan-12/</guid>
		<description><![CDATA[Ujian merupakan salah satu metode yang digunakan oleh hampir seluruh lembaga pendidikan di Dunia. Dengan ujian, kita dapat mengetahui seberapa jauh kemampuan anak didik kita yang selama ini kita &#8220;gembleng.&#8221; Ada yang menerapkan ujian setiap akhir Semester, ada juga yang menerapkan ujian setiap akhir Cawu. Namun semua itu tunjuannya sama, yakni mengetest kemampuan akhir anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ujian merupakan salah satu metode yang digunakan oleh hampir seluruh lembaga pendidikan di Dunia. Dengan ujian, kita dapat mengetahui seberapa jauh kemampuan anak didik kita yang selama ini kita &#8220;gembleng.&#8221; Ada yang menerapkan ujian setiap akhir Semester, ada juga yang menerapkan ujian setiap akhir Cawu. Namun semua itu tunjuannya sama, yakni mengetest kemampuan akhir anak didik kita.</p>
<p>Seperti halnya lembaga pendidikan yang lain, Maka Bogor EduCARE pun selalu menguji seberapa jauh kemampuan mahasiswa-mahasiswinya. Ujian yang di BEC dilaksanakan setiap 4 Bulan sekali (Catur Wulan). Disini para mahasiswa berkompetisi, barang siapa yang kemampuannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan BEC, maka mahasiswa tersebut akan lolos ke cawu berikutnya. Namun apabila mahasiswa yang bersangkutan tidak memenuhi standar minimal BEC, maka mahasiswa tersebut akan dikenakan <em>Drop Out</em> (DO)</p>
<p><span id="more-215"></span></p>
<p>Suasana tegang memang sangat terlihat pada setiap ruangan di Bogor EduCARE saat ini. Mereka para mahasiswa bisa dikatakan sedang mempertaruhkan masa depannya di BEC. Apakah mereka masih dapat melanjutkan belajar di BEC atau apakah mereka &#8220;lulus&#8221; lebih awal (DO).</p>
<p>Namun seperti angkatan-angkatan sebelumnya, mahasiswa Bogor EduCARE akan dihadapkan pada dua pilihan yang bisa dikategorikan sama-sama menguntungkan. Apabila mahasiswa tersebut terkena Dorp Out, maka ia dapat langsung bekerja. Dan apabila mahasiswa tersebut dapat lolos pada test cawu ini, maka ia dapat melanjutkan kegiatan belajarnya di BEC tersebut. Hanya saja, setiap mahasiswa diperlukan kelapangan hati apabila ia mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan yang diinginkannya.</p>
<p>Berikut adalah beberapa contoh suasana UAC I Angkatan 12</p>
<p align="center"><img src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2008/12/suasanatest1.jpg" alt="Suasana Test 1" width="350" height="264" /></p>
<p align="center"><img src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2008/12/pict0870.jpg" alt="PICT0870" width="350" height="264" /></p>
<p align="center"><img src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2008/12/pict0871.jpg" alt="PICT0871" width="350" height="264" /></p>
<p align="center"><img src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2008/12/pict1332.jpg" alt="PICT1332" width="350" height="264" /></p>
<p align="center"><img src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2008/12/pict1330.jpg" alt="PICT1330" width="350" height="264" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2008/12/ujian-akhir-cawu-i-angkatan-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Multimedia di Bogor EduCARE</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2008/12/multimedia-di-bogor-educare/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2008/12/multimedia-di-bogor-educare/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 03:20:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sidik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar BEC]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor EduCARE]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/2008/12/multimedia-di-bogor-educare/</guid>
		<description><![CDATA[Sistem pendidikan dewasa ini telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Berbagai cara telah ditempuh guna meningkatkan mutu pendidikan dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Hal ini diharapkan pengajaran guru akan lebih berkesan dan pembelajaran bagi murid akan lebih bermakna. Sehingga ilmu yang diajarkanpun dapat diaplikasikan dengan baik oleh murid yang menerima ilmu tersebut. Sejak beberapa tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sistem pendidikan dewasa ini telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Berbagai cara telah ditempuh guna meningkatkan mutu pendidikan dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Hal ini diharapkan pengajaran guru akan lebih berkesan dan pembelajaran bagi murid akan lebih bermakna. Sehingga ilmu yang diajarkanpun dapat diaplikasikan dengan baik oleh murid yang menerima ilmu tersebut.</p>
<p>Sejak beberapa tahun belakangan ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah banyak digunakan dalam proses belajar mengajar, dengan tujuan mutu pendidikan akan selangkah lebih maju seiring dengan kemajuan teknologi tersebut.</p>
<p><span id="more-192"></span></p>
<p>Perkembangan teknoloagi multimedia telah memberikan potensi yang cukup besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, untuk menyesuaikan informasi dan sebagainnya. Multimedia juga memberikan peluang bagi pendidik untuk mengembangkan teknik pembelajaran sehingga menghasilkan hasil yang maksimal. Demikian juga bagi pelajar, dengan multi media diharapkan mereka akan lebih mudah untuk menerima dan menerapkan ilmu yang telah diterima secara cepat dan efisien. Sumber ilmu tidak lagi terfokus pada teks dari buku semata-mata tetapi cakupannya lebih luas dari itu.</p>
<p>Melihat betapa pentingnya pemanfaatan teknologi bagi dunia pendidikan, maka Bogor EduCARE telah merintis sistem pembelajaran baru yang berbasis pada multimedia sebagai sarana belajar. Di sini, mahasiswa akan diberikan materi melalui multi media yang sudah tersedia. Yakni TV Flat 50 inchi, sound sistem, Komputer, dll. Dengan harapan, dengan diterapkannya sistem pembelajaran melalui multimedia maka para mahasiswa Bogor EduCARE dapaT memaksimalkan potensi yang terdapat pada dirinya masing-masing.</p>
<p>Berikut adalah gambar sistem pembelajaran multimedia di Bogor EduCARE.</p>
<p align="center"><img src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2008/12/pict081421.jpg" alt="pict08142" width="350" height="264" /></p>
<p align="center"><img src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2008/12/pict08171.jpg" alt="pict0817" width="350" height="264" /></p>
<p align="center"><img src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2008/12/pict08271.jpg" alt="pict0827" width="350" height="264" /></p>
<p align="center"><img src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2008/12/pict08291.jpg" alt="pict0829" width="350" height="263" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2008/12/multimedia-di-bogor-educare/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan Dilaksanakan Akhir Juni 2008</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2008/06/ujian-nasional-pendidikan-kesetaraan-dilaksanakan-akhir-juni-2008/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2008/06/ujian-nasional-pendidikan-kesetaraan-dilaksanakan-akhir-juni-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 04:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/2008/06/ujian-nasional-pendidikan-kesetaraan-dilaksanakan-akhir-juni-2008/</guid>
		<description><![CDATA[Penyelenggaraan Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Tahun Pelajaran 2007/2008 akan dilaksanakan dalam dua periode. Ujian periode I untuk program Paket C dilaksanakan pada 24-27 Juni 2008, sedangkan untuk Paket A dan Paket B pada 1-3 Juli 2008. Ujian Periode II untuk program paket C diselenggarakan pada 11-14 November 2008,sedangkan untuk Paket A dan Paket B [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyelenggaraan Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Tahun Pelajaran 2007/2008 akan dilaksanakan dalam dua periode. Ujian periode I untuk program Paket C dilaksanakan pada 24-27 Juni 2008, sedangkan untuk Paket A dan Paket B pada 1-3 Juli 2008.  Ujian Periode II untuk program paket C diselenggarakan pada 11-14 November 2008,sedangkan untuk Paket A dan Paket B pada 18-20 November 2008. Mulai 2008 UNPK diselenggarakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).</p>
<p><span id="more-46"></span></p>
<p>Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PNFI) Depdiknas Hamid Muhammad saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media, Depdiknas, Jakarta, Senin (9/06/2008).</p>
<p>Hadir pada acara Koordinator UNPK-BSNP Yunan Yusuf, Sekretaris UNPK-BSNP Suharsono, Direktur Pendidikan Kesetaraan Ditjen PNFI Depdiknas Ella Yulaelawati, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan (Ka Puspendik Balitbang) Depdiknas Burhanuddin Tolla, dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama Amin Haedari.</p>
<p>Hamid mengatakan, pemerintah tidak menetapkan target kelulusan UNPK, tetapi akan memantau efektivitas proses pembelajaran pada program Paket A, Paket B, dan Paket C. Pemerintah, kata dia, juga akan melakukan antisipasi terhadap peningkatan jumlah peserta UNPK tahun 2008. Menurutnya, hal ini dilakukan bukan semata-mata disebabkan karena dari banyaknya siswa yang tidak lulus pada UN formal. &#8220;Tetapi juga karena program Paket A, B, dan C reguler, serta homeschooling yang setiap tahun berjumlah sangat signifikan,&#8221; katanya.</p>
<p>Hamid menyebutkan, jumlah kelulusan peserta UNPK 2007 Paket A 79,1 persen, Paket B 86,84 persen, Paket C IPS 76,32 persen, dan Paket C IPA 72,66 persen. Sementara jumlah peserta UNPK 2007 kontribusi dari yang tidak lulus UN formal untuk Paket B 60 persen dan Paket C 42 persen.</p>
<p>Yunan menjelaskan, peserta UNPK terdiri atas tiga jenis yakni, peserta reguler dari masyarakat belajar pendidikan kesetaraan, peserta belajar mandiri atau pada homeschooling, dan peserta dari siswa yang tidak lulus pada UN formal.</p>
<p>Yunan mengatakan, khusus untuk peserta dari siswa yang tidak lulus UN formal pada jenjang SMK tidak diperbolehkan mengikuti UNPK. Hal ini, kata dia, disebabkan karena pada Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak menyebutkan bahwa SMK boleh mengikuti UNPK. Selain itu, kata dia, ada mata pelajaran yang diujikan di UNPK, tetapi tidak dipelajari di SMK. &#8220;Kita tegaskan betul untuk SMK tidak boleh lagi mengikuti UNPK,&#8221; katanya.</p>
<p>Yunan menyebutkan, materi yang diujikan untuk program Paket A meliputi lima mata pelajaran yakni Pendidikan Kewarganegaraan, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Untuk program Paket B materinya meliputi enam mata pelajaran yakni, Pendidikan Kewarganegaraan, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.</p>
<p>Sementara, lanjut Yunan, untuk program Paket C bidang IPS akan mengujikan tujuh mata pelajaran yakni,  Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Inggris, Sosiologi, Geografi, Bahasa Indonesia, Ekonomi, dan Matematika. Selanjutnya, pada program Paket C bidang IPA akan mengujikan tujuh mata pelajaran yakni, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Inggris, Biologi, Kimia, Fisika, Bahasa Indonesia, dan Matematika.</p>
<p>Yunan menyampaikan, peserta UNPK dinyatakan lulus apabila memiliki nilai rata-rata minimal 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan tidak ada nilai di bawah  4,25 atau memiliki nilai 4,00  pada salah satu mata pelajaran dengan nilai pada mata pelajaran lainnya minimal 6,00. &#8220;Peserta UNPK yang dinyatakan belum lulus dapat mengikuti UNPK periode berikutnya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Yunan menambahkan, bagi peserta UNPK yang pernah mengikuti UNPK Paket A, Paket B, dan Paket C pada periode sebelumnya dan dinyatakan belum lulus, maka nilai yang digunakan adalah nilai tertinggi dari mata pelajaran yang sama. &#8220;Jadi kalau dia mengulang pada bulan November, maka nilai yang digunakan adalah nilai yang tertinggi ketika dia mengikuti ujian yang kedua itu,&#8221; katanya.</p>
<p>Burhanuddin menyebutkan, peserta UNPK Paket A sebanyak 58.833 orang, Paket B sebanyak 235.016 orang, dan Paket C IPA dan IPS sebanyak 224.595 orang. Adapun biaya penyelenggaraan UNPK disediakan oleh pemerintah. Untuk Paket C total sebanyak Rp.97.000,00 per siswa. &#8220;Artinya mungkin berbeda antara di Jakarta Rp.50.000, sedangkan di Maluku Utara lebih mahal, tapi rata-rata sekian,&#8221; katanya.</p>
<p>Amin mengatakan, di lingkungan pondok pesantran banyak santri yang tidak mengikuti pendidikan formal, tetapi mengikuti Pendidikan Kesetaraan. Dia menyebutkan, jumlah institusi yang ikut UNPK sebanyak 620 pondok pesantren tersebar di 178 kabupaten/kota. Adapun jumlah peserta UNPK  2008 di bawah naungan Departemen Agama sebanyak 37.597 orang terdiri atas peserta Paket C 26.493 orang, Paket B 8.276 orang, dan Paket A 2.828 orang.***<br />
Sumber: Pers Depdiknas</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2008/06/ujian-nasional-pendidikan-kesetaraan-dilaksanakan-akhir-juni-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
