<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BogorEduCARE.org &#187; Dunia Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://bogoreducare.org/category/dunia-pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bogoreducare.org</link>
	<description>100% Kuliah GRATIS</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Dec 2011 09:31:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Merumput di Outdoor Class</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2011/08/merumput-di-outdoor-class/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2011/08/merumput-di-outdoor-class/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 08:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wkf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[outdoor class di bec]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=870</guid>
		<description><![CDATA[Hamparan rumput menghijau yang ada di halaman BEC bagian dalam terlihat begitu menggoda. Bukan hanya kambing, manusiapun tergoda untuk ‘merumput’ melihat halaman berselimut rumput yang begitu hijau. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 559px"><img src="http://img43.imageshack.us/img43/6258/merumputdioutdoorclass0.jpg" alt="merumput di outdoor class" width="549" height="365" /><p class="wp-caption-text">Santai tapi tetap belajar.</p></div>
<p>Belajar di BEC itu sangat menyenangkan dan nyaman. Selain memiliki ruang kelas yang bersih dan besar, BEC juga mempunyai ruang kelas yang asri dan menyatu dengan alam. Seperti apakah ruang kelas yang dimaksud?<br />
<span id="more-870"></span><br />
Hamparan rumput menghijau yang ada di halaman BEC bagian dalam terlihat begitu menggoda. Bukan hanya kambing, manusiapun tergoda untuk ‘merumput’ melihat halaman berselimut rumput yang begitu hijau. Tentu saja bukan merumput sebagaimana yang dilakukan kambing, tetapi merumput dalam artian memanfaatkan rumput hijau nan segar itu untuk aktifitas lain. Karena BEC adalah tempat belajar, aktifitas yang dilakukan tidak jauh-jauh dari menimba ilmu. Lalu, bagaimana bentuknya? Menjadikannya sebagai kelas luar ruangan atau outdoor class adalah bentuk aktifitas ‘merumput’ yang sangat mungkin dilakukan. Dan saya rasa, semua orang lebih senang belajar di ruang terbuka dibandingkan berada di dalam ruangan. Seperti yang saya lihat hari ini, mereka yang belajar di tempat terbuka nampak begitu menikmati suasana. Bagaimana tidak? Mereka lebih merasa sedang menikmati piknik atau sedang camping, bukan sedang belajar.</p>
<p>Outdoor class merupakan sebuah solusi mengatasi kejenuhan belajar di dalam ruang kelas. Jika anda seorang pengajar di level apapun, ada baiknya mempertimbangkan penciptaan kelas luar ruangan. Tidak harus di atas rumput di bawah pohon rindang sebagaimana yang dilakukan di BEC. Anda bisa memanfaatkan tempat terbuka semacam teras atau tempat parkir untuk dijadikan ruang kelas. Jangan sampai ide kreatif anda mandek hanya gara-gara fasilitas yang diinginkan tidak ada. Justru saat muncul keterbatasan, otak kita seharusnya menjadi semakin terpacu untuk menemukan solusi kreatif. Bila di tempat anda tidak ada lapangan untuk ‘merumput’, jangan kemudian memutuskan bahwa ide menciptakan outdoor class tidak mungkin direalisasikan.</p>
<p>Kelas luar ruangan memang menyenangkan namun bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Karena berada di tempat terbuka, kualitas akustik menjadi menurun. Anda yang bersuara pelan jadi semakin tidak jelas suaranya saat berada di ruang terbuka. Solusinya adalah meninggikan suara agar bisa terdengar jelas sehingga dapat mengatasi suara-suara yang berasal dari tempat lain yang ada di sekeliling.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img src="http://img24.imageshack.us/img24/6258/merumputdioutdoorclass0.jpg" alt="merumput di outdoor class" width="550" height="366" /><p class="wp-caption-text">Sedang merumput bersama <img src='http://bogoreducare.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p>Kelemahan lainnya yaitu konsentrasi peserta hilang atau menurun. Di ruang terbuka, pembelajar bisa menjadi tidak fokus. Ruang kelas jadi ramai karena tempatnya menyatu dengan lingkungan sekeliling. Pandangan mata bisa mengarah ke mana saja tanpa ada dinding yang membatasi. Hal ini tentu saja akan merangsang siapapun untuk mengalihkan perhatian dari pengajar. Namun demikian, kelemahan yang satu ini bersifat relatif. Mungkin saja apapun yang berada di sekeliling outdoor class itu tidak terlalu mengganggu konsentrasi, lebih-lebih jika pengajar dapat menarik perhatian peserta didiknya sehingga tetap bisa berkonsentrasi dan fokus pada apa yang sedang disampaikan.</p>
<p>Faktor alam juga bisa menjadi kendala. Sinar matahari yang terik bisa diatasi bila kita berada di bawah pohon yang rindang. Namun bila hujan yang datang, akan terlihat aneh bila tetap belajar di bawah guyuran hujan meski terlindungi payung. Masak ‘merumput’ sambil bawa payung?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adi Purwanto<br />
<a href="http://wongkamfung.boogoor.com" target="_blank">http://wongkamfung.boogoor.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2011/08/merumput-di-outdoor-class/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep e-Learning</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2011/08/konsep-e-learning/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2011/08/konsep-e-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 05:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wkf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[belajar e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[definisi e-learning]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning itu menyenangkan]]></category>
		<category><![CDATA[konsep e-learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=864</guid>
		<description><![CDATA[Apa sih e-Learning? Istilah ini sudah lama dikenal hampir semua pengguna internet dan mayoritas dari mereka yang bergelut dalam dunia belajar mengajar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://img268.imageshack.us/img268/2732/gramediaitcorner31juli2.jpg" alt="konsep elearning" width="401" height="301" />e-Learning barangkali bukan barang baru lagi buat anda. Istilah ini sudah lama dikenal hampir semua pengguna internet dan mayoritas dari mereka yang bergelut dalam dunia belajar mengajar. Namun demikian, jika anda tidak paham dengan istilah itu dan ingin mengetahui lebih banyak tentang e-Learning, tulisan ini cocok buat anda.<br />
<span id="more-864"></span><br />
Saya sendiri sebenarnya bukan praktisi e-Learning seratus persen. Akan tetapi, karena saya sadar bahwa metode tersebut bisa menjadi sarana menarik dalam proses belajar mengajar, saya mencoba untuk mnggunakannya setiap ada kesempatan. Metode ini menarik karena berbentuk multimedia. Cara belajar yang berbentuk multimedia ini tentu saja lebih menyenangkan dibanding hanya belajar di dalam kelas dengan materi belajar yang disampaikan secara verbal oleh pengajar. Jika belajar menjadi menyenangkan, persentase penyerapan pengetahuan yang disampaikan jelas semakin tinggi.</p>
<p>Bila kita buka kamus <em>Cambridge Advanced Learner's Dictionary</em>, e-Learning didefinisikan sebagai pembelajaran melalui internet yang bisa diakses di rumah. Wikipedia mengartikan e-Learning lebih luas lagi. Dikatakan dalam rujukan online tersebut bahwa e-Learning adalah semua bentuk kegiatan belajar mengajar yang menggunakan perangkat elektronik. Dengan demikian, bukan hanya internet yang menjadi sarananya tetapi bisa media lain semacam intranet, TV satelit, kaset, dan CD.</p>
<p>e-Learning memiliki beragam istilah yang digunakan oleh berbagai pihak. Istilah-istilah ini pada dasarnya mengacu pada hal yang sama sebagaimana konsep e-Learning. CBT (<em>Computer-Based Training</em>), IBT (<em>Internet-Based Training</em>), dan WBT (<em>Web-Based Training) </em>adalah sinonim yang suka digunakan untuk menggantikan kata e-Learning. Untuk penulisannya sendiri, e-Learning memiliki beberapa variasi penulisan. e-Learning kadang ditulis <em>elearning</em>, <em>Elearning</em>, atau <em>eLearning.</em></p>
<p>Penerapan e-Learning tidak harus rumit dan melibatkan hal-hal atau perangkat keras maupun lunak yang membingungkan. Dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di internet dan, ini yang terpenting, GRATIS, kita sudah bisa menjalankan e-Learning. Media sosial seperti Facebook dan layanan blog gratis dari Blogspot atau WordPress bisa dimanfaatkan untuk mempraktekkan e-Learning. Bagaimana cara memanfaatkan itu semua? Slide presentasi yang saya buat saat acara IT Corner di toko buku Gramedia Ekalokasari kemarin barangkali bisa menjelaskan lebih gamblang. Anda bisa mengunduhnya melalui <a href="http://wongkamfung.boogoor.com/e-learning-itu-menyenangkan.html" target="_blank">tautan ini</a>. Mudah-mudahan cukup jelas dan menjelaskan. Namun bila tidak, atau ada pertanyaan yang ingin disampaikan, silakan menghubungi saya dengan mengklik <a href="http://wongkamfung.boogoor.com/hubungi-wkf" target="_blank">tautan ini</a>. InsyaAllah saya akan coba jawab sebisa dan semaksimal kemampuan saya. <img src='http://bogoreducare.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adi Purwanto,<br />
<a href="http://wongkamfung.boogoor.com/" target="_blank">http://wongkamfung.boogoor.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2011/08/konsep-e-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BEC Itu Bukan Lembaga Pendidikan</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2011/07/bec-itu-bukan-lembaga-pendidikan/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2011/07/bec-itu-bukan-lembaga-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 04:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wkf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[bec itu bukan lembaga pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga besar bec]]></category>
		<category><![CDATA[suasana kekeluargaan di bogor educare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=835</guid>
		<description><![CDATA[BEC itu bukan sebuah lembaga pendidikan tetapi sebuah keluarga besar yang saling mencintai dan menyayangi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 411px"><img src="http://img146.imageshack.us/img146/3576/fb1004512.jpg" alt="keluarga bec" width="401" height="300" /><p class="wp-caption-text">Satu keluarga satu rasa. Jengkol untuk semua. ;D</p></div>
<p>Bagaimanapun juga BEC buat alumninya tidak bisa dilupakan begitu saja. Ada momen-momen yang memberikan kenangan tak terlupakan bagi mereka, manis maupun pahit. Kenangan tersebut, saya yakin, akan mereka bawa kemanapun mereka pergi. BEC dan semua peristiwa yang terjadi di dalamnya telah menjadi sebuah episode dari kehidupan mereka. Dan akan dibawa sampai mati. Pasti itu!<br />
<span id="more-835"></span><br />
Ketika sebuah grup Facebook alumni BEC dibuat, banyak alumnus dengan segera menjadi anggotanya. Ada ratusan yang terdaftar dan saya yakin masih ratusan lagi di luar sana yang belum atau belum sempat mendaftar karena suatu sebab. Inilah kekuatan media sosial di era internet saat ini. Ribuan jarak secara geografis sudah tidak lagi menjadi kendala untuk terus berinteraksi. Tidak salah jika kita mengucapkan terima kasih kepada media sosial semacam Facebook yang telah menjadi jembatan silaturahim bagi penduduk dunia ini termasuk ‘rakyat’ BEC.</p>
<p>Maanfaat yang dipetik dari grup tersebut bukan hanya sebagai penyambung tali silaturahim yang otomatis akan menjadikan rasa kekeluargaan dan senasib sepenanggungan semakin mengkristal. Dari grup itu kita juga dapat mengetahui apa yang ada dalam hati dan pikiran seluruh anggotanya. Betulkah? Jelas! Salah satunya adalah ungkapkan hati tentang kesan yang didapat selama berada di BEC sampai mereka lulus dan menjalani kehidupan mereka masing-masing saat ini. Mata saya berkaca-kaca ketika mengetahui bahwa BEC telah menjadikan mereka seperti yang mereka tuliskan dalam grup yang ada di Facebook. Jika anda bukan anggota grup, saya akan tuliskan untuk anda setelah ini. Bila anda alumni BEC baik yang sampai selesai maupun ‘selesai dipercepat’ segeralah bergabung dengan grup tersebut agar keluarga kita semakin ramai dan meriah serta anda bisa menuliskan kesan dan pesan anda di sana. Bagi sebuah keluarga, sebenarnya, tidak ada bedanya antara yang ‘lulus dipercepat’ atau lulus biasa.</p>
<p>Inilah beberapa episode hidup yang terkait dengan BEC yang mereka tuliskan. Dari situ kita tahu bahwa BEC itu bukan sebuah lembaga pendidikan tetapi sebuah keluarga besar yang anggotanya saling mencintai dan menyayangi. Tulisan di bawah ini saya ambil dari grup Facebook alumni BEC seperti apa adanya, tanpa ditambahi atau dikurangi.</p>
<blockquote><p><strong>Hayatuddin Al Qassam</strong><br />
di BEC saya belajar semangat berbagi -tanyakan pada siapapun yang pernah makan BESAR di balkon (bec lama, -red.)</p>
<p>di BEC saya belajar arti persahabatan -tanyakan pada siapapun yang menangis pada pembagian KHS cawu 2 (angk. 10, -red.)</p>
<p>di BEC saya belajar arti mempertahankan hidup karena jauh dari orang tua -tanyakan sama anak2 Kojaw. Kang Shiddiq, Encu dkk.</p>
<p>di BEC saya belajar tentang bagaimana managemen waktu -tanyakan pada semua lulusan BEC yang pernah menginap di warnet/ rental untuk mengerjakan tugas.</p>
<p>di BEC saya belajar tentang arti kekeluargaan -tanyakan pada kakak angkatan kami, angk. 11.</p>
<p>di BEC saya belajar tentang arti berbagi perhatian dan kasih sayang -tanyakan pada Mam Chamirsyah, Miss Khusnul, Mam Linda, Miss Mita dan semua dosen BEC</p>
<p>di BEC saya belajar berbagi semangat -tanyakan pada semua lulusan BEC yang teman sekelasnya 'terpaksa lulus lebih cepat'</p>
<p>di BEC saya belajar bagaimana menjadi diri sendiri, dan jadi PEMENANG -tanyakan pada Dosen Attitude/ Bimb. Karir Anda.</p>
<p>di BEC saya belajar dating dan pulang tepat waktu –tanyakan pada lulusan BEC yang mendapatkan reward di akhir cawu karena tidak pernah terlambat dan lupa check lock (tulisannya bener gak ya??)</p>
<p>*tentunya hal-hal di atas belum mampu menggambarkan semua yang saya dapatkan dari BEC. silahkan jika ada yang ingin menambahkan lagi...</p>
<p><strong>Tyas Yulia Paraswati</strong><br />
menemukan jati diri yang sesungguhnya di BEC, merasa dianggap jadi manusia sepenuhnya di kehidupan sehari-hari, terutama di dunia kerja...dianggap orang yang multi talent juga...semua itu karena ilmu yang didapat dari BEC...</p>
<p><strong>Omanta Alexander</strong><br />
saya orang terakhir dari angk. 11 yang masuk BEC dengan nilai tes masuk paling rendah (Itu yang saya ingat) tapi motivasi dari dosen membuat saya mampu bertahan di BEC. saya masih ingat ketika masuk saya anak cadangan tapi Allah SWT berkehendak lain, saya diterima, jadi mahasiswa, ketua CIBEC saat itu, pernah ikut jadi Dai sehari (hehehehe juara 2), termasuk anak paling usil (Mungkin, seingat saya sih gitu) dan kini sudah lulus dan sekarang bekerja pada bagian penjualan di perusahaan swasta di Jakarta. BEC saya rindu dengan swasana kekeluargaan yang penuh keharmonisan, saling membantu, saling berbagi dan saling menerima satu dengan yang lainnya (Tiada perbedaan status). I like it.</p>
<p><strong>Rizal Dzifa Al-Salam</strong><br />
Bec tak kan tergantikan!</p>
<p><strong>Sugeng Nurpambudi</strong><br />
Dari awal sampe akhir menyenangkan...pelajaranny​ a tidak membosankan...saya sampe ga sadar...tahu2 udah setahun lebih saya belajar di BEC...dan tanpa disadari pula saya belajar banyak di sana...bhasa inggris, komputer, atitude dsb....</p></blockquote>
<p>Adi Purwanto,<br />
<a href="http://wongkamfung.boogoor.com" target="_blank">http://wongkamfung.boogoor.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2011/07/bec-itu-bukan-lembaga-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Kaya Dilarang Kuliah</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2011/07/orang-kaya-dilarang-kuliah/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2011/07/orang-kaya-dilarang-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 04:20:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wkf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Kaya Dilarang Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[orang miskin harus sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Orang kaya dilarang kuliah! Barangkali larangan ini tidak masuk akal bagi anda karena justru orang-orang kaya yang umumnya bisa mengirim anaknya ke bangku kuliah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_824" class="wp-caption alignleft" style="width: 461px"><img class="size-full wp-image-824" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2011/07/3h-06.jpg" alt="mahasiswa bec bogor educare" width="451" height="338" /><p class="wp-caption-text">mahasiswa Bogor EduCARE (BEC)</p></div>
<p>Barangkali larangan itu tidak masuk akal bagi anda. Umumnya, justru orang-orang kaya yang bisa mengirim anaknya ke bangku kuliah. Sekarang, mengapa justru mereka dilarang kuliah? Ah, anda pasti ketinggalan berita untuk yang satu ini. <img src='http://bogoreducare.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> <br />
<span id="more-823"></span><br />
Ini bukan bohong-bohongan, tapi serius. Jika anda anak orang kaya, jangan pernah sekali-kali mendaftar untuk kuliah. Atau jika anda orang ‘tajir’ dan mempunyai anak lulusan SMA, saya sarankan untuk tidak mendaftarkan anak anda untuk kuliah. Bukannya anak anda akan diterima tetapi mungkin anda malah dianggap sebagai orang yang tidak tahu diri. “Ini orang kok nggak tahu malu sih!” Barangkali itu respon yang akan diterima jika anda yang orang kaya tetap nekad mendaftarkan diri sendiri atau anak anda jika anda sebagai orang tua. Tentu saja tidak semua institusi pendidikan melarang anda mendaftarkan diri untuk kuliah.</p>
<p>Syahdan di suatu desa di Bogor, tepatnya Kampung Cikiray, Desa Sukaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, berdirilah sebuah institusi pendidikan dengan gedungnya yang megah dan asri. Dari tempat ini, banyak manusia-manusia hebat dilahirkan. Manusia-manusia hebat ini pantas dikatakan demikian karena meskipun kehidupan mereka memiliki keterbatasan dalam finansial, semangat belajar mereka begitu dahsyat. Jika seseorang dengan kemampuan ekonomi yang kuat kemudian memiliki otak cemerlang dan semangat belajar yang menggebu-gebu, itu semua bisa dibilang wajar dan sudah pasti bisa terakomodasi. Namun jika seseorang itu berasal dari keluarga dhuafa dan tentu saja dengan keterbatasan di segala aspek kehidupannya terutama faktor ekonomi tetapi berotak cemerlang dan pantang menyerah untuk mengejar ilmu, ini yang patut mendapat acungan jempol. Lembaga pendidikan inilah yang memfasilitasi mereka untuk bermetamorfosis dalam kehidupan pribadi maupun keluarganya.</p>
<p>Saya pernah menulis tentang lembaga pendidikan ini dalam sebuah reportase yang berjudul <a href="http://wongkamfung.boogoor.com/kawah-candradimuka.html" target="_blank"><em>Kawah Candradimuka</em></a>. Silakan anda membaca tulisan tersebut untuk tahu lebih jauh perihal tempat penggemblengan manusia-manusia pilihan yang memiliki semangat luar biasa dalam belajar. Lembaga pendidikan tersebut bernama Bogor EduCARE (BEC). Siapapun boleh mendaftar namun hanya orang-orang pilihan yang dijamin bisa masuk dan menyelesaikan pendidikan. Jika anda berkemampuan secara finansial untuk kuliah, saya sarankan untuk tidak coba-coba masuk ke tempat ini. Lebih baik memberi kesempatan mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu, daripada ngotot mementingkan diri sendiri. Itu lebih bijak dan menghindarkan anda dianggap orang yang tidak tahu diri.</p>
<p>BEC memang membebaskan semua biaya pendidikan alias gratis bagi seluruh anak didiknya. Meskipun gratis segala-galanya (uang spp, uang sks, uang gedung, uang buku), namun demikian, fasilitas belajar mengajarnya kelas satu. BEC selalu <em>up-to-date</em> dalam sarana prasarana belajar. Selain itu, peraturan untuk mendisiplinkan anak didik begitu ketat. Anda tidak perlu menyiapkan uang pendidikan untuk masuk BEC tetapi anda harus menanyakan diri sendiri apakah siap mental menghadapi suasana belajar yang berdisiplin tinggi ini? Kekayaan anda tidak berlaku di BEC. Otak cemerlang dan motivasi belajar tinggi yang datangnya dari anak keluarga dhuafa yang diinginkan lembaga pendidikan ini.</p>
<p><em>So</em>, orang kaya dilarang kuliah di sini. Mantab kan?</p>
<p>Adi Purwanto</p>
<p><a href="http://wongkamfung.boogoor.com" target="_blank">http://wongkamfung.boogoor.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2011/07/orang-kaya-dilarang-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerimaan Mahasiswa Baru Angkatan 15 Tahun 2011</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2011/04/penerimaan-mahasiswa-baru-angkatan-15-tahun-2011/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2011/04/penerimaan-mahasiswa-baru-angkatan-15-tahun-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 12:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sidik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Lowongan Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar BEC]]></category>
		<category><![CDATA[beasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[gratis]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[scholarship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=802</guid>
		<description><![CDATA[Bogor EduCARE adalah lembaga pendidikan dengan program BEASISWA PENUH selama 1 tahun (lebih tepatnya 18 bulan).  Program yang kami sediakan ini adalah khusus untuk keluarga yang kurang mampu untuk melanjutkan kuliah, namun memiliki semangat kuat untuk belajar dan memperbaiki diri dan keluarga. Pada tahun 2011, Bogor EduCARE menerima pendaftaran mahasiswa baru untuk angkatan 15.  Adanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bogor EduCARE adalah lembaga pendidikan dengan program BEASISWA PENUH selama 1 tahun (lebih tepatnya 18 bulan).  Program yang kami sediakan ini adalah khusus untuk keluarga yang kurang mampu untuk melanjutkan kuliah, namun memiliki semangat kuat untuk belajar dan memperbaiki diri dan keluarga.</p>
<p>Pada tahun 2011, Bogor EduCARE menerima pendaftaran mahasiswa baru untuk angkatan 15.  Adanya 14 angkatan yang telah bergabung bersama kami, ini menandakan bahwa kami benar-benar murni 100% memberikan BEASISWA PENUH. dan itu telah TERBUKTI.</p>
<p>Info Pendaftaran lebih lanjut bisa di buka di minisite kami di: <a title="Minisite PMB Bogor EduCARE angk 15" href="http://pmb.bogoreducare.org/">http://pmb.bogoreducare.org/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2011/04/penerimaan-mahasiswa-baru-angkatan-15-tahun-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>78</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8221;Perlukah Pendidikan Berkarakter?</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/07/lagi-kasus-video-mirip-ariel-luna-maya-dan-cut-tari-perlukah-pendidikan-berkarakter/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/07/lagi-kasus-video-mirip-ariel-luna-maya-dan-cut-tari-perlukah-pendidikan-berkarakter/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 06:37:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[budaya bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[budi pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/2010/07/lagi-kasus-video-mirip-ariel-luna-maya-dan-cut-tari-perlukah-pendidikan-berkarakter/</guid>
		<description><![CDATA[“Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em><span style="font-size: small;">“Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak terpuji.”</span></em></p></blockquote>
<p><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2035.jpg"><img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px; border: 0px;" title="100_2035" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2035_thumb.jpg" border="0" alt="100_2035" width="158" height="209" align="left" /></a> Berita video yang mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari begitu heboh. Saking hebohnya bisa mengalahkan pemberitaan kasus-kasus hukum yang lain (Century, Susno Duadji). Beritanya cepat sekali menyebar, dan pasti ada dampaknya, misalnya <a href="http://megapolitan.kompas.com/read/2010/07/14/09133433/Pelaku.Video.Mesum.ABG.Rumpin.Dinikahkan" target="_blank">di Rumpin Bogor terjadi adegan video yang katanya meniru video mirip Ariel dkk tersebut</a>. Video itu berformat 3gp beredar di ponsel, pelakunya masih remaja (ABG).</p>
<p>Apakah yang terjadi dengan masyarakat bangsa ini, masyarakat yang katanya menjunjung tinggi budaya ketimuran, yang menghormati norma-norma kesopanan, kesusilaan. Apakah yang terjadi? Apakah sudah bergeser nilai-nilai kearifan lokal bangsa ini. Masyarakat sudah masa bodoh dengan lingkungan sekitar, hal-hal yang dulu dianggap tabu sudah menjadi sesuatu yang biasa dan dimaklumi. Dianggap sebagai urusan pribadi yang katanya hak asasi. Tidak malu jika melakukan sesuatu yang melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Apakah itu hanya wilayah pribadi yang orang lain tidak ada kepentingan dan bukan menjadi urusannya, <em>that not my business. hmm…</em></p>
<p><span id="more-704"></span></p>
<p><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2036.jpg"><img style="display: inline; margin-left: 0px; margin-right: 0px; border-width: 0px;" title="100_2036" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2036_thumb.jpg" border="0" alt="100_2036" width="244" height="184" align="left" /></a> Informasi dari media tentang kasus-kasus asusila seperti video mesum seringnya terjadi pada remaja/anak muda. Berita itu hanya <a href="http://www.inilah.com/news/read/gaya-hidup/2009/06/30/121566/aborsi-di-indonesia-26-juta-pertahun/" target="_blank">sebagian kecil</a> yang terungkap, dari data yang diberitakan <a href="http://www.antaranews.com/view/?i=1234758374&amp;c=NAS&amp;s=" target="_blank">AntaraNews 30% Pelaku aborsi adalah remaja dari 2,3 juta tiap tahunnya.</a> Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja terjadi peningkatan berkisar 150.000 hingga 200.000 kasus setiap tahunnya.</p>
<p>Jika tidak ada perbaikan apakah yang akan terjadi pada bangsa ini, apakah keruskan moral ini akan terus berlanjut, apakah akan terjadi keruskan pada bangsa ini, karena pemuda sekarang adalah pemimpin di masa depan. Apakah memang ada yang sengaja merusak bangsa ini melalui pemudanya, supaya bangsa dengan potensi yang luar biasa ini menjadi lemah pemudanya, pemudanya menjadi layu sebelum berkembang.</p>
<p>Ketika mendampingi anak yatim dari <a href="http://yatim.tv" target="_blank">Pondok Yatim Menulis</a> ke Jakarta di Kementrian DIKNAS, saya tertarik dengan beberapa spanduk yang terpampang, saya pikir dari DIKNAS sendiri sudah menyadari memang pendidikan budi pekerti, karakter dan budaya bangsa ini harus ditingkatkan dan digalakkan lagi. Supaya bisa menjadi kebiasaan baik atau akhlak.</p>
<p><em>“Bangkitlah bangsaku, harapan itu masih ada” </em></p>
<p><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2034.jpg"><img style="display: inline; border-width: 0px;" title="100_2034" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/07/100_2034_thumb.jpg" border="0" alt="100_2034" width="244" height="184" /></a></p>
<p>Berikut ini tulisan menarik tentang pendidikan karakter yang ditulis oleh pakarnya, selamat menikmati :</p>
<p><strong><span style="font-size: medium;">”Perlukah Pendidikan Berkarakter?”</span></strong></p>
<p>Oleh: Dr. Adian Husaini*</p>
<p>PEMERINTAH, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD-Perguruan Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, kata Mendiknas, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat membangun kepribadian bangsa. Mendiknas mengungkapkan hal ini saat berbicara pada pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed), Sabtu (15/4/2010).<br />
Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak terpuji.<br />
Bahkan, bisa dikatakan, dunia Pendidikan di Indonesia kini sedang memasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak alumni pendidikan yang unggul, yang beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter.<br />
Dr. Ratna Megawangi, dalam bukunya, Semua Berakar Pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007), mencontohkan, bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurutnya, pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.<br />
Dalam bukunya, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (2010), Doni Koesoema Albertus menulis, bahwa pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berkeutamaan. Dalam pendidikan karakter, yang terutama dinilai adalah perilaku, bukan pemahamannya. Doni membedakan pendidikan karakter dengan pendidikan moral atau pendidikan agama. Pendidikan agama dan kesadaran akan nilai-nilai religius menjadi motivator utama keberhasilan pendidikan karakter.<br />
Tetapi, Doni yang meraih sarjana teologi di Universitas Gregoriana Roma Italia, agama tidak dapat dipakai sebagai pedoman pengatur dalam kehidupan bersama dalam sebuah masyarakat yang plural. "Di zaman modern yang sangat multikultural ini, nilai-nilai agama tetap penting dipertahankan, namun tidak dapat dipakai sebagai dasar kokoh bagi kehidupan bersama dalam masyarakat. Jika nilai agama ini tetap dipaksakan dalam konteks masyarakat yang plural, yang terjadi adalah penindasan oleh kultur yang kuat pada mereka yang lemah," tulisnya.<br />
Oleh karena itu, simpul Doni K. Albertus, meskipun pendidikan agama penting dalam membantu mengembangkan karakter individu, ia bukanlah fondasi yang efektif bagi suatu tata sosial yang stabil dalam masyarakat majemuk. Dalam konteks ini, nilai-nilai moral akan bersifat lebih operasional dibandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun demikian, nilai-nilai moral, meskipun bisa menjadi dasar pembentuk perilaku, tidak lepas dari proses hermeneutis yang bersifat dinamis dan dialogis.<br />
Sebagai Muslim, kita tentu tidak sependapat dengan pandangan Doni K. Albertus semacam itu. Sebab, bagi Muslim, nilai-nilai Islam diyakini sebagai pembentuk karakter dan sekaligus bisa menjadi dasar nilai bagi masyarakat majemuk. Masyarakat Madinah yang dipimpin Nabi Muhamamd saw, berdasarkan kepada nilai-nilai Islam, baik bagi pribadi Muslim maupun bagi masyarakat plural. Tentu kita memahami pengalaman sejarah keagamaan yang berbeda antara Katolik dengan Islam.<br />
Namun, dalam soal pendidikan karakter bagi anak didik, berbagai agama bisa bertemu. Islam dan Kristen dan berbagai agama lain bisa bertemu dalam penghormatan terhadap nilai-nilai keutamaan. Nilai kejujuran, kerja keras, sikap ksatria, tanggung jawab, semangat pengorbanan, dan komitmen pembelaan terhadap kaum lemah dan tertindas, bisa diakui sebagai nilai-nilai universal yang mulia. Bisa jadi, masing-masing pemeluk agama mendasarkan pendidikan karakter pada nilai agamanya masing-masing.<br />
Terlepas dari perdebatan konsep-konsep pendidikan karakter, bangsa Indonesia memang memerlukan model pendidikan semacam ini. Sejumlah negara sudah mencobanya. Indonesia bukan tidak pernah mencoba menerapkan pendidikan semacam ini. Tetapi, pengalaman menunjukkan, berbagai program pendidikan dan pengajaran – seperti pelajaran Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewargaan Negara (PPKN), Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), – belum mencapai hasil optimal, karena pemaksaan konsep yang sekularistik dan kurang seriusnya aspek pengalaman. Dan lebih penting, tidak ada contoh dalam program itu! Padahal, program pendidikan karakter, sangat memerlukan contoh dan keteladanan. Kalau hanya slogan dan ’omongan’, orang Indonesia dikenal jagonya!<br />
Harap maklum, konon, orang Indonesia dikenal piawai dalam menyiasati kebijakan dan peraturan. Ide UAN, mungkin bagus! Tapi, di lapangan, banyak yang bisa menyiasati bagaimana siswanya lulus semua. Sebab, itu tuntutan pejabat dan orangtua. Guru tidak berdaya. Kebijakan sertifikasi guru, bagus! Tapi, karena mental materialis dan malas sudah bercokol, kebijakan itu memunculkan tradisi berburu sertifikat, bukan berburu ilmu! Bukan tidak mungkin, gagasan Pendidikan Karakter ini nantinya juga menyuburkan bangku-bangku seminar demi meraih sertifikat pendidikan karakter, untuk meraih posisi dan jabatan tertentu.<br />
*****<br />
Mohammad Natsir, salah satu Pahlawan Nasional, tampaknya percaya betul dengan ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”<br />
Menurut rumus ini, dua kata kunci kemajuan bangsa adalah “guru” dan “pengorbanan”. Maka, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak “guru-guru yang suka berkorban”. Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar “guru pengajar dalam kelas formal”. Guru adalah para pemimpin, orangtua, dan juga pendidik. Guru adalah teladan. “Guru” adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh). Guru bukan sekedar terampil mengajar bagaimana menjawab soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi murid-muridnya.<br />
Mohammad Natsir adalah contoh guru sejati, meski tidak pernah mengenyam pendidikan di fakultas keguruan dan pendidikan. Hidupnya dipenuhi dengan idealisme tinggi memajukan dunia pendidikan dan bangsanya. Setamat AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung, dia memilih terjun langsung ke dalam perjuangan dan pendidikan. Ia dirikan Pendis (Pendidikan Islam) di Bandung. Di sini, Natsir memimpin, mengajar, mencari guru dan dana. Terkadang, ia keliling ke sejumlah kota mencari dana untuk keberlangsungan pendidikannya. Kadangkala, perhiasan istrinya pun digadaikan untuk menutup uang kontrak tempat sekolahnya.<br />
Disamping itu, Natsir juga melakukan terobosan dengan memberikan pelajaran agama kepada murid-murid HIS, MULO, dan Kweekschool (Sekolah Guru). Ia mulai mengajar agama dalam bahasa Belanda. Kumpulan naskah pengajarannya kemudian dibukukan atas permintaan Sukarno saat dibuang ke Endeh, dan diberi judul Komt tot Gebeid (Marilah Shalat).<br />
Kisah Natsir dan sederet guru bangsa lain sangat penting untuk diajarkan di sekolah-sekolah dengan tepat dan benar. Natsir adalah contoh guru yang berkarakter dan bekerja keras untuk kemajuan bangsanya. Ia adalah orang yang sangat haus ilmu. Cita-citanya bukan untuk meraih ilmu kemudian untuk mengeruk keuntungan materi dengan ilmunya. Tapi, dia sangat haus ilmu, lalu mengamalkannya demi kemajuan masyarakatnya.<br />
*****<br />
Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M. Natsir melalui sebuah artikelnya yang berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut”, Natsir mengingatkan bahaya besar yang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu mulai memudarnya semangat pengorbanan. Melalui artikelnya ini, Natsir menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia pasca kemerdekaan dengan pra-kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, kata Natsir, bangsa Indonesia sangat mencintai pengorbanan. Hanya enam tahun sesudah kemerdekaan, segalanya mulai berubah. Natsir menulis:<br />
“Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau… Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai…Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah… Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya...”<br />
Peringatan Natsir hampir 60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite bangsa, khususnya para pejabat dan para pendidik. Jika ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang mencintai pengorbanan dan bisa menjadi teladan bagi bangsanya. Beberapa tahun menjelang wafatnya, Natsir juga menitipkan pesan kepada sejumlah cendekiawan yang mewawancarainya, ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.” Lebih jauh, kata Natsir:<br />
”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi, gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.”<br />
*****<br />
Seorang dosen fakultas kedokteran pernah menyampaikan keprihatinan kepada saya. Berdasarkan survei, separoh lebih mahasiswa kedokteran di kampusnya mengaku, masuk fakultas kedokteran untuk mengejar materi. Menjadi dokter adalah baik. Menjadi ekonom, ahli teknik, dan berbagai profesi lain, memang baik. Tetapi, jika tujuannya adalah untuk mengeruk kekayaan, maka dia akan melihat biaya kuliah yang dia keluarkan sebagai investasi yang harus kembali jika dia lulus kuliah. Ia kuliah bukan karena mencintai ilmu dan pekerjaannya, tetapi karena berburu uang!<br />
Kini, sebagaimana dikatakan Natsir, yang dibutuhkan bangsa ini adalah “guru-guru sejati” yang cinta berkorban untuk bangsanya. Bagaimana murid akan berkarakter; jika setiap hari dia melihat pejabat mengumbar kata-kata, tanpa amal nyata. Bagaimana anak didik akan mencintai gurunya, sedangkan mata kepala mereka menonton guru dan sekolahnya materialis, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui lembaga pendidikan.<br />
Pendidikan karakter adalah perkara besar. Ini masalah bangsa yang sangat serius. Bukan urusan Kementerian Pendidikan semata. Presiden, menteri, anggota DPR, dan para pejabat lainnya harus memberi teladan. Jangan minta rakyat hidup sederhana, hemat BBM, tapi rakyat dan anak didik dengan jelas melihat, para pejabat sama sekali tidak hidup sederhana dan mobil-mobil mereka – yang dibiayai oleh rakyat – adalah mobil impor dan sama sekali tidak hemat.<br />
Pada skala mikro, pendidikan karakter ini harus dimulai dari sekolah, pesantren, rumah tangga, juga Kantor Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Dari atas sampai ke bawah, dan sebaliknya. Sebab, guru, murid, dan juga rakyat sudah terlalu sering melihat berbagai paradoks. Banyak pejabat dan tokoh agama bicara tentang taqwa; berkhutbah bahwa yang paling mulia diantara kamu adalah yang taqwa. Tapi, faktanya, saat menikahkan anaknya, yang diberi hak istimewa dan dipandang mulia adalah pejabat dan yang berharta. Rakyat kecil dan orang biasa dibiarkan berdiri berjam-jam mengantri untuk bersalaman.<br />
Kalau para tokoh agama, dosen, guru, pejabat, lebih mencintai dunia dan jabatan, ketimbang ilmu, serta tidak sejalan antara kata dan perbuatan, maka percayalah, Pendidikan Karakter yang diprogramkan Kementerian Pendidikan hanya akan berujung slogan!</p>
<p>[Depok, Juni 2010/hidayatullah.com]</p>
<div id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:7b7052af-a79c-46e0-9022-69ddf7e9cfde" class="wlWriterEditableSmartContent" style="margin: 0px; display: inline; float: none; padding: 0px;">Technorati Tags: <a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/budi+pekerti">budi pekerti</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/pendidikan">pendidikan</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/dunia+pendidikan">dunia pendidikan</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/karakter+bangsa">karakter bangsa</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/budaya+bangsa">budaya bangsa</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/budaya">budaya</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/video+ariel+luna+maya+cut+tari">video ariel luna maya cut tari</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/video+3gp">video 3gp</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/the+jek+ngesbray">the jek ngesbray</a>,<a rel="tag" href="http://technorati.com/tags/video+mesum">video mesum</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/07/lagi-kasus-video-mirip-ariel-luna-maya-dan-cut-tari-perlukah-pendidikan-berkarakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Pertemuan</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/07/indahnya-pertemuan/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/07/indahnya-pertemuan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 00:13:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sidik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar BEC]]></category>
		<category><![CDATA[haru]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[menyenangkan]]></category>
		<category><![CDATA[pertemuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nur Hanifah, S. Pd Sore itu. Saya bersama suami dan anak-anak berangkat belanja untuk keperluan rumah singgah. Setelah belanja kebutuhan dapur, kami melanjutkan untuk belanja keperluan lainnya ke sebuah toko di jl. Surya kencana. Tak perlu menyebutkan nama tokonya, nanti dianggap promosi. Kegiatan belanja menjadi hal rutin yang kami lakukan setelah rumah singgah (asrama) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Nur Hanifah, S. Pd</p>
<p style="text-align: justify;">Sore itu. Saya bersama suami dan anak-anak berangkat belanja untuk keperluan rumah singgah. Setelah belanja kebutuhan dapur, kami melanjutkan untuk belanja keperluan lainnya ke sebuah toko di jl. Surya kencana. Tak perlu menyebutkan nama tokonya, nanti dianggap promosi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan belanja menjadi hal rutin yang kami lakukan setelah rumah singgah (asrama) yang berisi sekitar  50 anak asuh mulai aktif. Kalau biasanya cukup belanja 1 bulan sekali, saat ini hampir seminggu 1 atau 2 kali kami harus menyempatkan waktu untuk belanja, capek namun menyenangkan. Sengaja saya pilih toko grosir agar barang yang kita beli harganya murah. Gerah memang karena tanpa AC, namun puas karena mendapat harga yang miring.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebutuhan yang cukup banyak selalu membuat keranjang belanja kami penuh dengan barang. 5 karung beras, 1 peti telur, 1 dus minyak, gula, tepung, kacang ijo, serta barang dapur lainnya selalu mengisi bagasi mobil, yang Alhamdulillah bisa mengantar kami menjelajah toko sembako yang murah. Pada saat membayar pasti selalu ditanya sama kasirnya “Mau hajatan Bu?”. Mungkin wajah saya bukan wajah bakul sehingga dikira orang yang akan hajatan dengan begitu banyaknya barang belanjaan. Hmmm begini ternyata rasanya kalau punya anak banyak. Alhamdulillah….selalu ku syukuri pertemuan dengan Yayasan ini, dan terutama dengan pemilik yayasan ini karena dari Beliau, saya belajar banyak hal tentang kebaikan, berbagi kebahagiaan, berbagi kasih sayang dengan siapapun…terutama dengan mereka yang kurang beruntung dalam hal ekonomi.</p>
<p style="text-align: justify;">50 anak asuh dengan karakter  dan latar belakang yang berbeda cukup membuat kami repot dalam mengawasi setiap hari….agak berat pada awalnya….ada yang mau kabur (sekarang sudah cukup nurut), ada yang nangis pengin pulang, ada yang suka “kepingin” barang temannya, ada yang minta dispesialkan,ada yang menjengkelkan,  namun banyak pula yang bisa membuat kami  tertawa dan terharu setiap bertemu mereka. Alhamdulillah…..dari mereka aku diingatkan untuk selalu bersyukur atas semua nikmat dariMu, belajar lebih sabar dengan anak-anak kandungku dan mencintai anakku dan anak asuh dengan lebih tulus. Betapa senangnya melihat mereka makan dengan lahapnya walaupun musti agak cerewet agar mereka mau disiplin dan menjaga kebersihan dan kerapihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, setelah belanja kami mampir di masjid Raya bogor untuk sholat magrib, dan alangkah kagetnya ketika ada seorang jamaah yang duduk didepanku tiba-tiba menengok dan menyapaku. Sungguh aku tak ingat wajahnya, namun kuyakin kalau dia salah satu siswa di BEC. “ maaf, saya lupa sama kamu, tapi saya yakin kamu salah satu muridku”, kataku. “ iya mom, saya fulan dari angkatan 12, tapi saya kena DO di Cawu…”katanya. Kebetulan saya ketemu Mom, saya pengin cerita banyak sama Mom.”  Dan ahirnya mengalirlah cerita yang cukup banyak….dan insyaallah dia mendapatkan semangat untuk selalu belajar setelah lulus duluan dari BEC, dan yang pasti tidak putus asa dan dapat terus berkarya. Ya Allah…terima kasih …saya bisa merasakan bertemu dengan orang yang penuh semangat…bahkan yang dulu sewaktu masih menjadi murid saya tidak begitu mengenalnya…namun pertemuan setelah sholat maghrib itu terasa sangat akrab dan terasa hangat walau hanya sebentar, saya bahagia bertemu dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekali pertemuan-pertemuan dalam hidup kita yang “uncertain” tapi sebenarnya sangat indah. Andai kita mau merenungkan, begitulah jalan hidup ini, banyak kebahagiaan yang bisa kita bagi. Rasa syukur dalam diri akan lebih membuat hati tenteram dan tenang. Semoga pertemuan-pertemuan saya dengan siapapun juga, walaupun hanya lewat tulisan ini bisa member kebahagiaan dalam hati kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/07/indahnya-pertemuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Some Kind of Wonderful</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/05/some-kind-of-wonderful/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/05/some-kind-of-wonderful/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 15:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sidik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar BEC]]></category>
		<category><![CDATA[BEC]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor EduCARE]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=629</guid>
		<description><![CDATA[Education is a necessity, not a luxury. That's why Nur Hanifah runs a free school in Bogor, West Java. Gia Wicaksana pays her a visit to find out why—and how—she does it. FOR TOO MANY YOUTH in Indonesia, higher education is wishful thinking. When their own belly is empty, their little siblings are not doing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Education is a<sup> </sup>necessity, not a luxury. That's why Nur Hanifah runs a free school in Bogor, West Java. Gia Wicaksana pays her a visit to find out why—and how—she does it.</p>
<p style="text-align: justify;">FOR TOO MANY YOUTH in Indonesia, higher education is wishful thinking. When their own belly is empty, their little siblings are not doing well, and the house itself is falling apart, survival instincts kick in and formal education takes a backseat. Couple this conundrum with the ever-rising cost of living and it's no wonder that the underprivileged are forced to enter the workforce before they can reach their fullest employability potential.<span id="more-629"></span><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/1.jpg"><img class="size-medium wp-image-631 aligncenter" title="1" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/1-211x300.jpg" alt="" width="135" height="192" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">This results in piecemeal earnings with no real prospects and thus, not much hope to change the family's future for the better. In 2001, a private Indonesian educational institution came along to change all this. Located in Bogor, West Java, Bogor EduCare (BEC) attends to poverty-stricken young adults who are not able to continue their education after high school. The institution teaches business administration skills together with Islamic values. This is designed to not only prepare students for the work force, but to also enrich their spirituality. The price tag for all this? Zero. That's right, education at Bogor EduCare is absolutely free—they provide everything from books to lunches. In short, BEC offers these young adults a light at the end of their poverty-stricken tunnel.</p>
<p style="text-align: justify;">The young woman behind the school is Nur Hanifah, aged 32. The school headmistress dedicates all her time and passion into this institution, caring for little else other than the absolute wellbeing of her students. She believes that everyone is utterly capable in increasing their welfare, but education determines their self-assurance to do so. Hence, BEC's main mission is to ensure that each student receives adequate knowledge <sup>to </sup>survive in this world</p>
<p style="text-align: justify;">and to escape the vicious cycle of poverty. Being the co-founder, Nur had gone through her fair share of ups and downs with BEC and today, she has succeeded in her undertakings.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Why was BEC created? </em></p>
<p style="text-align: justify;">The idea came up during Indonesia's '97 monetary crisis. The CEO of PT Bukaka Teknik Utama and BEC's founder, Achmad Kalla, witnessed so many children quit school because their parents lost their jobs. At that time, I was working for that company, and we decided that we wanted to help the affected children continue their education, to be independent and to eventually increase their family's welfare. The idea was to set up an educational institution that is absolutely free for the needy... and thus, BEC was born—purely to help.</p>
<p style="text-align: left;"><em>How did people react when they first heard of BEC?</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/2.jpg"><img class="size-medium wp-image-632 aligncenter" title="2" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/2-165x300.jpg" alt="" width="165" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">At first, it was extremely hard for us to get students, because nobody believed that such a good offer is available for free—people assume that we must have some kind of hidden</p>
<p style="text-align: justify;">agendas. Therefore, for the first four years, we had very few students because nobody believed in our sincere good cause. Slowly, however, people saw the positive outcomes of BEC's students, and word of mouth started to spread around that we are an honest educational institution that requires no fees whatsoever from the students. Alhamdulillah, as a result, more and more people have trusted us. Currently we have around 250 students, but we are aiming for 300 students this year—the school's maximum capacity is around 450.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>How was BEC's condition when it was first set up?</em></p>
<p style="text-align: justify;">For the first six years, the condition of our school building and facilities were poor. We rented a small, two-storey house in the Panaragan area, and divided the small rooms into even tinier classrooms. Our computers were very outdated—our most sophisticated one was a Pentium 1—and we assembled our own computer desks. During those years, I doubt if the school would survive. One day during Ramadhan in 2007, Mr Kalla came to visit us. He saw the students cramped in the small classrooms, jostling to break fast together.</p>
<p style="text-align: justify;">Moved, he held a meeting with his company's Board of Directors. Soon after Hari Raya, the construction of our current school began. Now, we have a very decent building with spacious classrooms and superior facilities, such as a computer lab and a sport field. Alhamdulillah, it's probably part of Ramadhan's blessings. In fact, working here has indeed given us all <sub>s</sub>o many blessings. Probably that's why I have stayed throughout these years.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>What is the BEC programme like?</em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/3.jpg"><img class="size-medium wp-image-633 aligncenter" title="3" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/3-300x290.jpg" alt="" width="149" height="145" /></a>Initially, we wanted to focus on English in our one-year courses. However, we figured out that employers seek a different skillset. After doing some research, we found out that the best formula to cater to this demand consists of 50 per cent English language skills, 20 per cent computer or IT skills, 20 per cent office administration skills and 10 per cent soft skills. This formula is similar to a Business Administration course. However, we are flexible and open to modifications, as demand changes continually. This is one of our advantages of not being bound to the General Directorate of Higher Education,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>What is </em><em>BEC's </em><em>biggest challenge </em><em>nowadays?</em></p>
<p style="text-align: justify;">I think our biggest challenge today is keeping the students in school until they graduate and are ready for work. The thing is, BEC has quite a high academic standard. Therefore, there are always expellees who got dismissed every year. We aim for only 5 per cent dismissals every year, but up till now, it is still around 15 per cent. The key is keeping them motivated. We have many students that are capable to get high grades, but because of external situations—for example, their parents' divorces—they feel down and lose all spirit. In some cases, there's not much we can do to change their minds.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Can you tell us more about </em><em>BEC's </em><em>graduation requirements?</em></p>
<p style="text-align: justify;">To pass, the students' GPA cannot be lower than 2.00, nor can they have a D. We also monitor their behaviour and attendance records, as we want them to be disciplined and committed to their studies. It is not always easy for them, but we cannot lower the standards.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>How </em><em>are </em><em>BEC's </em><em>students doing after they graduate?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ninety per cent of our graduates manage to land decent<sub>j</sub>obs or start their own businesses. A couple of students became journalists in Radar Bandung and Jurnal Bogor (newspapers). Some others found work in big national companies such as PT Bosowa and PT Sampoerna in high positions. Some of them, after they become financially capable, enroll themselves in colleges and universities to obtain higher degrees. That is actually one of my messages to them—to never stop learning.</p>
<p style="text-align: justify;">Overall, I can say that BEC's graduates have always managed to improve their life and their family's, and that means our mission's accomplished.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>How </em><em>can people help, besides donating money?</em></p>
<p style="text-align: justify;">We always need people who could volunteer their expertise and skills through our public lecture sessions. Our students look forward to these to broaden their horizons.</p>
<p style="text-align: justify;">Another thing we need here is a psychologist. We have many students who need mental support. Teachers and academic advisors can only assume their psychological problems, but I want my students to receive professional help. We also desperately need health support. Our students</p>
<p style="text-align: justify;"><em>That is actually one of my messages to them—to never stop learning.</em></p>
<p style="text-align: justify;">often have serious illnesses or injuries, but they don't bother to take them seriously since they don't have the money to check them up. I'll give you an example, which happened recently. A student met with a bike accident. However, he never told us about it and appeared fine until he started having vision problems. Suddenly, his condition worsened and he couldn't go to school. When we visited him, he was already in a coma. We hurried him to the hospital for a CT scan, but it was all too late. After two days in the hospital, he passed away, right in front of our eyes. It was fate, I'm sure, but I also believe we could've done something to save him. I'm still very sad whenever I think of him.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>You </em><em>are also a wife and a mother. How do you </em><em>manage your time?</em></p>
<p style="text-align: justify;">I have three small kids-6, 4, and 2-years old. I work all day, so they have someone taking care of them when I work, and I monitor them via the phone throughout the day. My rule of thumb is to never bring work back home so I can focus on them. At weekends, I often have to go to BEC to take care of things, so the kids come with me. Therefore, BEC has become their weekend place. They love it here since they can run around freely on its grounds.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Do you have any thoughts about our current education system?</em></p>
<p style="text-align: justify;">My hope is for Indonesia to make its education system more affordable and better in quality. It frustrates me that schooling is so expensive nowadays, yet, they still use the drilling method that forces students to memorise theories instead of making them understand the concepts. In other words, students pay a high fee only to be turned into robots.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>What is </em><em>your </em><em>message for </em><em>young people who cannot </em><em>afford </em><em>further education?</em></p>
<p style="text-align: justify;">In Indonesia, there are actually a number <a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/4.jpg"><img class="size-medium wp-image-634 aligncenter" title="4" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/4-300x230.jpg" alt="" width="184" height="140" /></a>of free education foundations, for example Insan Cendikia, and BEC, of course. Although there aren't too many of us, we do exist. So people just need to dig up the information to access free education. The key is to never give up.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">====================</p>
<p style="text-align: center;">AQUILA MAGAZINE: MAY-JUNE 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/05/some-kind-of-wonderful/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Everlasting UAN Story</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/05/everlasting-uan-story/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/05/everlasting-uan-story/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 09:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wkf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[uan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian akhir nasional]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>
		<category><![CDATA[un]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Betul juga kata Menteri Pendidikan Nasional bahwa UAN itu bagaikan lab. Hasilnya seperti apapun bukan masalah. Misalnya setelah periksa darah kok hasilnya memperlihatkan hb darah yang rendah, biarin saja. Jadi, jika hasil UAN menunjukkan 100% gagal, itu hal yang wajar. Namun bila anak menteri itu yang tidak lulus UAN kemudian bunuh diri, barangkali akan lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/everlasting-uan-story.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-617" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/05/everlasting-uan-story.jpg" alt="" width="150" height="333" /></a>Betul juga kata Menteri Pendidikan Nasional bahwa UAN itu bagaikan lab. Hasilnya seperti apapun bukan masalah. Misalnya setelah periksa darah kok hasilnya memperlihatkan hb darah yang rendah, biarin saja. Jadi, jika hasil UAN menunjukkan 100% gagal, itu hal yang wajar. Namun bila anak menteri itu yang tidak lulus UAN kemudian bunuh diri, barangkali akan lain ceritanya.</p>
<p><span id="more-616"></span></p>
<p>Ujian Akhir Nasional atau UAN yang diselenggarakan belum lama ini kembali menjadi hal yang kontroversial. Munculnya berbagai kasus siswa yang nekat mengakhiri hidup atau ramai-ramai menghancurkan sekolahnya sendiri akibat tidak lulus UAN dianggap angin lalu oleh pemerintah. Standar pendidikan yang menjadi fokus pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional menjadikan pemerintah seperti kuda yang dipakaikan kacamata. Faktor psikologis siswa yang justru lebih penting dibandingkan sekedar nilai akademis tidak terlihat atau lebih tepatnya tidak digubris oleh pemerintah. Apakah perolehan nilai akademis yang tinggi dapat menjadi indikator meningkatnya mutu pendidikan? Saya rasa itu pikiran yang naif mengingat banyaknya kecurangan untuk mendongkrak nilai yang dilaporkan. Tidak seharusnya ambisi pemerintah meningkatkan mutu pendidikan dengan mengorbankan anak bangsa. Seorang siswa itu merupakan mahluk hidup  yang tidak hanya sekedar mesin yang dapat di-<em>upgrade</em> begitu saja layaknya komputer. Hanya dengan menaikkan spesifikasi CPU yang lebih tinggi otomatis kemampuan akan meningkat. Peningkatan kualitas siswa seharusnya memperhitungkan juga sisi psikologis siswa.</p>
<p>Sudah sering dipaparkan di media tentang kualitas pendidikan yang tidak seragam antara satu daerah dengan yang lain. Bisa anda bayangkan alangkah akan tersengal-sengalnya siswa dari pedalaman Kalimantan bila dilawankan dengan pelajar dari Jakarta. Beberapa laporan dari dosen Universitas Pakuan Bogor menyebutkan betapa lemahnya mahasiswa-mahasiswa asal Papua yang dikirim pemerintah daerahnya untuk studi di perguruan tinggi itu. Anda pasti yakin bahwa mereka yang dikirim belajar itu tentunya bukan lulusan-lulusan SMA yang biasa-biasa saja. Namun pada kenyataannya mereka ketinggalan jauh dibandingkan mahasiswa lain yang berasal dari Bogor dan sekitarnya. Contoh satu kasus yang ditemukan di lapangan itu cukup dapat menjadi bukti perbedaan kualitas pendidikan yang ada di daerah dan di pusat.</p>
<p>Sikap <em>keukeuh</em> pemerintah melaksanakan UAN menyebabkan munculnya banyak tanda tanya. Dugaan terkuat adalah yang berkaitan dengan sangat besarnya nilai rupiah dalam pelaksanaan UAN yang akan dinikmati panitia pelaksana. Anggaran UAN 2010 sebesar hampir 573 miliar bukanlah kecil. Yang diterima petugas pemantau ujian saja lumayan besar, apalagi pada tingkat yang lebih tinggi. Sehingga dianggap tidak aneh bila meskipun pihak pemerintah dulu pernah dilarang Mahkamah Agung menyelenggarakan Ujian Nasional, sebagai pemegang kekuasaan bidang pendidikan melalui Departemen Pendidikan Nasional mereka tetap menyelenggarakan.</p>
<p>Dugaan uang besar di balik pelaksanaan UAN tentu saja perlu pengusutan serta pembuktian dan itu tidak gampang. Pasti akan terjadi keruwetan dan jurus <em>patgulipat</em> akan dimainkan bila ada yang berusaha membongkar ’skandal’ UAN. Dan anda bisa menebak siapa yang kemungkinan besar akan menang. Setiap muncul masalah termasuk di bidang pendidikan, selalu bermuara pada UUD, ujung-ujungnya duit. Apakah manusia Indonesia ini sebagian besar mata duitan?</p>
<p>UAN memang bukan berita baru sekarang. Namun, proyek pemerintah yang dinilai cacat hukum itu akan terus akan menjadi berita baru yang memprihatinkan setiap tahunnya karena selalu menghasilkan cerita-cerita menyedihkan tentang anak didik kita. Mudah-mudahan di negeri ini akan muncul pemerintahan yang mau mendengarkan dan memahami ratapan rakyatnya.</p>
<p>Adi Purwanto<br />
<a href="http://wongkamfung.boogoor.com" target="_blank">http://wongkamfung.boogoor.com</a></p>
<p>Sumber gambar: <a href="http://www.cartoonstock.com/directory/c/committing_suicide.asp" target="_blank">di sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/05/everlasting-uan-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Visioner</title>
		<link>http://bogoreducare.org/2010/04/manusia-visioner/</link>
		<comments>http://bogoreducare.org/2010/04/manusia-visioner/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 02:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wkf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[visioner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bogoreducare.org/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Organisasi apapun, termasuk institusi pendidikan, akan maju bila yang mengendalikan adalah orang-orang visioner yang dikepalai seorang pemimpin visioner pula. Lalu, seperti apa ciri-ciri orang visioner itu? Sudah pasti semua orang memiliki tiga masa: masa lalu, masa kini, masa depan. Anda merasa memiliki tiga masa itu juga kan? Namun, tidak semua orang merupakan manusia visioner. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/04/manusia-visioner.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-603" src="http://bogoreducare.org/wp-content/uploads/2010/04/manusia-visioner-184x300.jpg" alt="" width="184" height="300" /></a>Organisasi apapun, termasuk institusi pendidikan, akan maju bila yang mengendalikan adalah orang-orang visioner yang dikepalai seorang pemimpin visioner pula. Lalu, seperti apa ciri-ciri orang visioner itu?</p>
<p><span id="more-602"></span></p>
<p>Sudah pasti semua orang memiliki tiga masa: masa lalu, masa kini, masa depan. Anda merasa memiliki tiga masa itu juga kan? Namun, tidak semua orang merupakan manusia visioner. Ada orang-orang yang kartunis Benny &amp; Mice mengistilahkannya dengan sebutan terjebak masa lalu. Orang ini seolah-olah tidak terpengaruh dengan kemajuan jaman. Kemudian, ada juga yang merasa hidupnya hanya untuk sekarang. Apa yang dilakukan semata-mata untuk hari ini. Dia tidak peduli dengan dua masa yang lain. Masa lalu sudah terlupakan, masa depan tidak pernah terpikirkan. Jadi, inilah orang yang hidup di masa kini. Sedangkan orang-orang yang selalu memikirkan rencana ke depan dan merealisasikannya, mereka bisa disebut sebagai manusia visioner. Orang-orang seperti ini biasanya juga mempertimbangkan masa lalu dan memperhitungkan masa kini ketika menyusun rencana. Mereka memiliki mimpi yang selanjutnya diterjemahkan menjadi visi dan misi.</p>
<p>Dalam dunia pendidikan, apa yang terjadi bila orang-orang bukan visioner yang menjalankan roda organisasi? Sudah pasti institusi pendidikan yang dijalankan dan dikomandoi oleh orang yang terjebak masa lalu akan jalan di tempat, mandek, kemudian mati karena ketinggalan jaman. Kalaupun bertahan, bak cendawan di musim kemarau, hidup segan mati tak mau.</p>
<p>Sangat jelas untuk bisa mengidentifikasi mereka yang terjebak di masa lalu. Meskipun mereka mengingkarinya, pada prakteknya mereka secara tidak sadar suka menunjukkan pola pikir yang ketinggalan jaman. Salah satu ciri yang gampang diidentifikasi adalah dari cara mereka berbicara. Orang-orang yang sering mengatakan, “Dulu kampus ini begitu luar biasa ... Saya masih ingat ketika ... Di awal-awal lembaga ini berdiri ...” dan masih banyak lagi ucapan-ucapan lain yang mengacu ke masa lalu, adalah mereka yang berorientasi sejarah. Tentu saja, tidak ada salahnya kita menengok kembali ke masa lalu. Namun bila masa yang sudah lewat itu menjadi standar atau ukuran sebuah keberhasilan maka mulailah jebakan itu berfungsi. Kadang-kadang mereka menyangkal saat dikatakan ketinggalan jaman. Memang mereka mengajukan ide-ide masa depan yang terdengar dan terlihat luar biasa. Kenyataannya, hal itu hanya sebatas wacana. Apa yang direncanakan tidak pernah dijalankan. Mereka sudah cukup puas dengan keadaan sekarang sambil tersenyum ceria mengingat prestasi tempo dulu. Sementara itu waktu terus berjalan, teknologi terus berkembang. Orang-orang masa lalu ini telah dibutakan dengan kejayaan yang sudah tidak ada gunanya sekarang. Bisa disimpulkan, mereka yang berorientasi masa lalu adalah orang-orang yang takut pada perubahan.</p>
<p>Kurikulum institusi pendidikan yang terjebak masa lalu sudah pasti tidak relevan lagi dengan waktu sekarang. Banyak mata pelajaran/kuliah yang tidak dikembangkan sesuai situasi dan kondisi saat ini. Jangankan untuk antisipasi ke depan, yang aplikatif untuk masa kini saja minim sekali. Dengan demikian, tidak heran bila bahan ajar yang digunakan itu-itu saja sejak dulu. Mereka malas atau tidak punya keinginan untuk meng-<em>update</em> bahan ajar yang sudah ’kadaluwarsa’. Apalagi orang-orang itu misalnya termasuk orang yang <em>gaptek</em> alias gagap teknologi, akan semakin besar kendala yang dihadapi untuk memperbaharui bahan ajar. Mereka juga berdalih bahwa bahan yang ada sekarang masih baik dan bisa digunakan. Sebagai akibatnya, lulusan dari institusi pendidikan yang ketinggalan jaman itu akan ditolak oleh pasar tenaga kerja karena keahlian dan pengetahuan yang dimiliki sudah ketinggalan jaman.</p>
<p>Beda lagi dengan institusi pendidikan yang dikelola oleh orang-orang yang <em>up to date,</em> mereka yang mengikuti perkembangan jaman. Institusi pendidikan yang seperti ini selalu akan berubah sesuai tuntutan pasar tenaga kerja dan jaman. Namun demikian apabila adaptasi yang dilakukan hanya bersifat reaktif maka organisasi ini bisa tergilas apabila perubahan yang terjadi di luar kemampuannya. Orang-orang yang berorientasi sekarang hanya melakukan pembaharuan sesuai dengan seluruh sumber daya yang dimiliki saat ini. Artinya, mereka tidak memiliki cadangan sumber daya sebagai tindakan antisipasi bila terjadi <em>chaos</em>. Dan mereka akan mati kutu ketika keadaan yang <em>chaos</em> itu menjadi <em>turbulence</em>.</p>
<p>Bagaimana dengan institusi pendidikan di tangan visioner? Bila pengelolaannya benar, bisa dipastikan organisasi ini akan melejit. Seperti apa institusi pendidikan yang visioner itu? Coba anda perhatikan apa yang dilakukan oleh institusi di mana anda ada di dalamnya. Sebuah institusi pendidikan yang visioner akan melengkapi dirinya dengan sarana prasarana moderen. Ibarat prajurit yang akan berangkat perang, dia akan membekali diri dengan senjata yang mutakhir. Meskipun senjata itu demikian mahal, dia tetap berusaha memiliki karena dia sadar bahwa itulah cara yang harus dilakukan untuk bisa memenangkan pertempuran. Institusi pendidikan visioner akan melengkapi sarana belajar mengajarnya dengan teknologi terkini baik untuk sarana utama maupun penunjang.</p>
<p>Itu dari segi sarana prasarana. Institusi pendidikan di tangan visioner tidak akan berhenti sampai di situ. Apalah artinya peralatan yang moderen dan canggih, gedung yang megah, jika orang-orangnya tidak bisa mengoperasikan dan merawat. Untuk itulah, sumber daya yang ada pasti akan di-<em>upgrade</em> agar memiliki keterampilan dan pengetahuan yang lebih tinggi dan variatif. Menyekolahkan, mengirim ke pelatihan atau kursus, membiayai untuk acara seminar adalah beberapa cara yang akan dilakukan institusi visioner. Mereka sadar bahwa sumber daya manusialah yang sebenarnya kunci kesuksesan dan aset yang terpenting. Langkah itu juga merupakan tindakan yang bukan hanya sekedar reaktif tetapi sudah bersifat proaktif. Sedia payung sebelum hujan. Manusia visioner bukan hanya bertindak proaktif tetapi juga berpikir strategis.</p>
<p>Bagi institusi pendidikan visioner, melengkapi sarana prasarana dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya adalah wajib hukumnya. Jika anda pernah dikirim ke pelatihan atau disekolahkan ke jenjang lebih tinggi oleh institusi anda dan itu masih terus berlangsung sampai sekarang, bergembira dan bersyukurlah. Itu artinya tempat anda bekerja dikelola oleh orang-orang visioner. Karena orang-orangnya visioner, otomatis organisasinya juga visioner. Mahal? Pasti! Tapi itu bagi manusia-manusia yang berorientasi masa lalu. Untuk kaum visioner, biaya yang dikeluarkan itu sangat murah bila dibandingkan dengan nilai masa depan yang akan diraih nanti.</p>
<p>Tidak ada yang <em>impossible</em> bagi para visioner. Beda dengan manusia-manusia <em>jadul</em> yang terjebak masa lalu. Bagi mereka yang ketinggalan jaman, membeli peralatan moderen dan mahal serta meng-<em>upgrade</em> sumber daya manusianya adalah MI alias <em>Mission: Impossible</em>.</p>
<p>Adi Purwanto<br />
<a href="http://wongkamfung.boogoor.com" target="_blank"><em>http://wongkamfung.boogoor.com</em></a></p>
<p><span style="text-decoration: underline">Sumber gambar</span>: <em>100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta</em> oleh Benny &amp; Mice.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bogoreducare.org/2010/04/manusia-visioner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

